Sepeda Untuk Berdua

Cahaya senja menghujani aku,sepeda kesayanganku,dan juga sesosok pria yang memboncengku. Aku terpejam menikmati sinar mentari sore yang dengan hangatnya menyapu wajahku.

Sepeda berwarna biru tua lengkap dengan keranjang dan boncengan pada sebelah belakang sepeda perlahan melewati sebuah jalan di pinggiran sungai. Jalan yang biasa kulalui untuk menuju rumahku. Saat menoleh ke kanan Aku bisa melihat sungai yang menjorok ke dalam dan rerumputan di bagian pinggiranya.

Terlihat anak-anak sedang berlarian sambil memegang berbagai layangan warna-warni. Tawa mereka terdengar sampai ke atas sampai akhirnya suara mereka tinggal bunyi-bunyi yang lirih pertanda kami telah melaju meninggalkan mereka.

Di depanku, seorang pria berambut hitam acak-acakan sedang mengayuh sepedaku dengan begitu semangat. Tas sekolah yang menggantung di sebelah samping pinggangnya berulangkali mengenai lutut kananku yang asyik bertengger di footstep sepeda. Kulihat rambutnya yang biasa acak-acakan semakin tidak karuan karena angin yang berhembus, seakan hembusan angin ingin berlomba dengan laju sepedaku.

Laki-laki di depanku ini, yang beberapa hari ini selalu memboncengku sepulang sekolah. Semua berawal dari rentetan kejadian yang panjang. Namun aku masih ingat semuanya

————————————-

Seminggu yang lalu aku menuntun sepedaku menuju gerbang sekolah, diantara murid-murid yang berhamburan keluar kulihat seorang cowok berambut acak-acakan yang sedang berjalan perlahan menuju gerbang sekolah, tanpa sengaja kami saling menatap satu sama lain. Darahku berdesir lebih cepat menyadari kita saling menatap. Sadar akan hal tersebut, dia segera menunduk dan menungguku keluar dari gerbang duluan. Saat kunaiki sepedaku dan kukayuh perlahan pedalnya menyusuri jalan raya, aku sejenak menengok ke belakang. Kulihat dia menatapku sambil terdiam di depan gerbang sekolah.

Keesokan harinya aku melihatnya lagi saat mencuci tanganku sehabis jam olahraga, kulihat dia sedang berjalan sambil menggenggam sebotol air mineral disertai keringat yang membasahi seragam olahraganya. Aku berusaha bersembunyi dan mengamatinya. Saat kita sangat dekat, aku menahan nafas dan merasakan degup yang sangat keras di dadaku sampai akhirnya aku perlahan mengamati punggungnya yang semakin menjauh menuju koridor kelas.

beberapa hari sesudahnya aku sedang termenung di jalan kecil di pinggir sungai mengamati sepeda biru tua kesayanganku. Saat tanpa kusadari ada sosok yanbg berjalan perlahan melewatiku. “hey, kenapa sepedamu?” dia berhenti dan menghampiriku saat melihatku hanya berdiri memandangi sepedaku “ban belakangnya kempes, sepertinya bocor terkena paku” jawabku putus asa, lalu aku tercengang ketika menyadari bahwa yang menyapaku adalah si rambut berantakan.

Dia berjongkok dan melihat ban belakangku sejenak. Selesai mengecek dia segera berdiri “sepertinya memang bocor terkena paku, apakah rumahmu jauh dari sini?” . aku menunjuk jembatan yang terlihat dari kejauhan “rumahku sudah dekat kok, kamu lihat jembatan itu? … nah setelah melewati jembatan itu, tinggal berjalan beberapa blok saja, setelah ada pertigaan lalu belok kanan sekitar 200 meter” . dia tersenyum “hmm, kebetulan atau tidak ya? Rumahku juga daerah situ, pada pertigaan rumahku belok kiri” . aku terbengong beberapa saat.

“gak baik cewek berjalan sendiri apalagi nenteng-nenteng sepeda, ayo barengan sama aku, biar aku yang nenteng sepeda kamu”. Aku tersenyum, dan mengikuti perlahan langkahnya. Dia menoleh ke arahku dan berkata “eh, ngomong-ngomong kita satu kelas kan?, tapi kenapa kita baru sadar kalau rumah kita satu arah ya …” tiba-tiba percakapan kami terhenti, lamunanku seketika menjadi sangat terang

Aku masih ingat bagaimana saat itu punggungnya ada di depanku, dan aku ingin bergegas  menyusul langkah kakinya, persis seperti senja saat ini. Dia yang sekarang di hadapanku dan memboncengku.

Bedanya, rasa nyaman yang selama ini kita ciptakan lama-lama berubah menjadi sebuah getaran rasa, dan dipenuhi rasa bimbang karena aku tidak tau mana yang lebih baik: cinta satu arah atau menjalani pertemanan yang mungkin akan berakhir menyedihkan ketika terlalu lama menyatakan perasaan yang sebenarnya

Dari jauh aku sudah bisa melihat jembatan yang akan kita lalui, pertanda sebentar lagi kita akan sampai ke rumah masing-masing dan harus berpisah. Kunikmati menit-menit yang berharga ini. Tanpa sadar kepalaku menyender di punggungnya. Dia agak kaget namun membiarkanku bersandar di punggungnya. Dengan putus asa aku berbisik lirih “i love you”

this story based on “futari nori no jitensha” (JKT48)

sierra-at-elysium

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: