birthday presents

Sebuah petak kecil, dulunya dipakai untuk lapangan tennis di atas bukit. Namun entah kenapa tempat ini sekarang dibiarkan terbengkalai. Pagar kawat yang dulu mengelilingi bukit kecil ini sudah dicopot. Beberapa property lapangan seperti net, papan score dan beberapa lainya juga sudah dipindahkan. Tersisalah sebuah lahan kosong yang kini kanan kirinya dipenuhi pohon dan rumput, sementara satu sisinya menghadap kearah lampu-lampu dan bangunan kota di bawah bukit. Pojokan lapangan yang menghadap ke kota ini sudah disulap oleh menjadi sebuah tampat duduk untuk berdua yang nyaman. lengkap dengan sebuah meja kayu tua bekas, sebuah kursi dan atap kecil untuk melindungi semisal hujan turun. Semua property ini dulunya digunakan untuk tempat duduk crew di kanan-kiri lapangan dan tidak ikut dipindahkan. Dengan system listrik yang juga masih menyala di tempat ini menjadikan sebuah tempat yang sangat nyaman untuk berdua, spot ini merupakan tempat rahasia aku dan dia

Gadis ini, pacarku sepertinya sudah menungguku cukup lama. Aku menghampirinya, dia tersenyum. “halo, tau kan ini hari apa?” sapaku sambil tersenyum. “udah kuduga sayang, kenapa setelah kita nggak ketemu hampir seminggu tiba-tiba kamu mengajak ketemuan di hari ini” jawabnya. “hahaha jadi ini nggak surprise lagi dong?” kataku. Dia mencubit tanganku dan kita tertawa.

Beberapa menit kemudian di atas meja telah berserakan sebuah kue ulang tahun kecil, lilin berbentuk angka “18” yang sudah ditiup, dua buah sendok kecil dan dua kotak jus jeruk yang sudah diminum.

“kuenya enak, siapa yang bikin fer?” tanya pacarku, kini dia duduk sambil menyenderkan kepalanya di bahuku. “mama yang bikin sayang” kataku. Berdua aku dan dia memandangi cahaya lampu yang dipancarkan dari gedung-gedung dan lampu kota di depan kami. Ipod yang earphonenya sedang menancap di telinga kami tiba-tiba tershuffle scenes from Parisian life dari the promise ring. Kulihat dia memejamkan matanya dan akupun memegang tanganya

The sun comes up a little later

 So, you can drink a little longer

I wish I had a dream last night So half the time you’d be here

i wish you’re here

I’m on your vine now, so high, I can see Italy

“citra…” panggilku.

“iya fer?” dia membuka matanya dan menatap wajahku

“Sekitar setahun yang lalu ya di kejuaraan tennis antar sekolah, kita bertemu di tempat ini” kataku. Citra tersenyum dan menjawab “padahal kita berdua sama sekali nggak tau apa-apa tentang tennis ya? Ahahaha”. Akupun ikut tersenyum mengingat saat-saat pertama kali berkenalan dengan citra.

Aku membuka tas yang tadi kubawa, sebuah bungkusan rapi kuserahkan ke citra, “b’day puresento”* . Citra tampak kaget dan sedikit memprotes  “yaampun, kamu … aku sudah berulangkali bilang ke kamu kan sayang …”

*–”birthday present” yang kuplesetkan ke accent jepang

“sudahlah, Cuma hadiah kecil di hari istimewa kamu sayang … buka dong” ujarku merespon protesan dari citra. Citra membuka bungkusan tersebut dan mengeluarkan isinya dengan mata berbinar. “astaga feri deryansyah …” dia dengan mata berbinar menatapku sambil memgang sebuah kaos arctic monkeys warna putih, matanya berbinar. “kamu suka?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutku. Dan tentu saja jawabanya sudah bisa kalian tebak

“citra, kita belum punya barang couple kan? Aku rasa aku udah nemuin benda yang cocok nih …

Aku memberikan sebuah kalung berbentuk kepala black cannary chibi sementara aku sendiri memakai kalung kepala green arrow. “hahaha lucu ini fer, dan nggak terlalu terlihat couple banget, kecuali buat penggemar superhero” dia sangat senang dengan hadiah kecil tambahan itu. Black  cannary mungkin panggilan sayangku ke citra, kenapa? Sebab kalau dia sudah sewot dan berteriak suaranya bising sekali … seperti power dari black cannary hahaha

“satu lagi cit hadiahnya …” kataku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya, citra menunjukan ekspresi kaget. Dia terdiam, wajahnya memerah ketika wajah kita saling mendekat. Kita belum pernah melakukan ini sebelumnya

“tunggu …” dia memotong, aku pun menahan badanku. “bukankah di saat seperti ini seharusnya kamu menyuruhku menutup mata?” lanjutnya. Aku tersenyum dan menjawab “kurasa itu tidak perlu”. Aku merangkul kepalanya, mata kita berdekatan saling memandang. jantungku berdebar dan nafasku seakan terasa berat. Dosakah ini?, keraguan itu sejenak muncul di dadaku. Terdiam karena ragu, lalu kumantapkan hati untuk menciumnya dengan sangat lembut

Beribu cara untuk mengungkapkan cinta, setelah aku mencium citra, aku berbisik di telinganya “selamat ulang tahun sayang, tidak perlu sebuah ciuman untuk dirimu mengetahui betapa besarnya rasa sayangku kepadamu”

“Well, mr. green arrow … I’ve got your arrow in my heart” kata citra dengan bahagia. Dan dia kembali menyenderkan kepalanya di bahuku. Aku membelai halus rambutnya, seolah ciuman tadi tidak pernah terjadi. Walau bibirnya masih hangat terasa di permukaan bibirku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: