Dam (without N)

Aku dan teman-teman sepermainanku menyebut tempat ini “DAM”. Sebenarnya kalau bisa dibilang, tempat ini hanyalah aliran sungai kecil yang dibelah menjadi 3 aliran oleh sistem irigasi persawahan di daerah timur area komplek perumahanku yang berupa persawahan. Jalan satu-satunya untuk menuju kesana adalah sebuah jalan setapak sederhana tanpa lampu yang kanan kirinya ditumbuhi pohon randu (pohon kapas) dan tidak lupa pematang-pematang sawah kecil yang menghubungkan jalan setapak dengan sawah  setiap beberapa meter. Karena tidak ada lampu di jalan setapak ini, maka tiap malam jalanan ini termasuk kawasan yg ditakuti anak-anak kecil sepertiku

Di siang hari yang terik aku sering bermain kesini bersama teman-temanku ataupun sendirian. Membawa kayu pendek yang tadinya ranting pohon yang jatuh sebagai pedang, maka disinilah aku … Seorang kesatria yang sedang melawan monster di lembah tak berpenghuni, hanya di dalam khayalan masa kecilku.

Daerah selatan komplek yang menjadi teritoriku memang tidak begitu ramai seperti daerah utara komplek yang lebih ramai populasi anak-anaknya. Namun daerah selatan atau kidul (bahasa jawa) selalu memiliki kegiatan dan permainan baru yang seru. Meskipun aku, well … sering di bully anak-anak yang lebih dewasa karena badanku yang kurus kering. Tiap blok disini setidaknya mempunyai geng bermain dan seorang anak sebagai leader.

Gengku terdiri dari aku, si kembar, apprenticeku bernama imam, modot dan anak-anak kecil lainya. Leader geng kecil ini bernama arif, dia setahun lebih tua daripada aku dan dia selalu memanjakan adiknya yang cengeng bernama hafidz. Ehm mungkin geng sepermainan ini akan lebih aku bahas di postingan yang lain🙂

Sore ini kami akan bermain ke Dam. Saat diperjalanan kami bertemu anak-anak block sebelah (yang masih di lingkup anak selatan komplek) yang asyik bermain patil lele, permainan tradisional dengan sebuah kayu panjang dan sebuah kayu pendek.

Ape ning ndi?” (Mau kemana?) Tanya salah satu dari mereka. “Dam, ape kecek … Melok?” (Mau ke Dam, bermain air … Ikut?) Jawab arif. Mereka menolak karena masih asyik memainkan patil lele. Akhirnya aku dan teman se-geng berjalan menyusuri jalan setapak yg dipenuhi randu menuju dam. Banyak yang bilang kalau jalan ini memang angker, aku sendiri belum pernah mengalami kejadian aneh disini. Mungkin ada temanku yang tiba-tiba terjatuh dari sepedanya tanpa sebab, atau dulu saat ada anak tetanggaku yang hilang dan tiba-tiba ditemukan di daerah dam. Apalah kejadian-kejadian itu, boys will be boys

Sampailah aku dan teman-teman di dam. Beberapa dari kami langsung menceburkan diri ke sungai kecil, sedang aku lebih suka duduk-duduk di pinggir dam sambil melihat permadani hijau alami yang sangat luas sembari membasuh kakiku yang penuh lumpur sawah dengan air irigasi yang jernih. Aku tak habis mengerti mengapa orang-orang tua seringkali melarang anak-anaknya bermain ke tempat yang terkesan angker padahal nyatanya tidak. Seharusnya kita anak kecil mempunyai ruang bermain yang sangat luas. Lihat saja anak-anak zaman sekarang yang lebih suka berada di depan komputer daripada bermain di sungai

Dam, meski tempat ini hanya sebatas sungai irigasi yang berada ditengah sawah, dia menyediakan apa kesenangan yang aku dan teman-teman seumuranku butuhkan. Kami bisa mandi-mandi di sungai, menikmati “air terjun” kecil yang diakibatkan bendungan irigasi, menyusuri pematang yang susah untuk dilewati, mencari ikan dan belut, adu ketangkasan melompati sungai, berjalan jauh sampai menemukan buah kersen yang siap dipetik, atau yang paling sederhana saja … Dam menyediakan sinar matahari sore yang hangat, udara yang jauh dari polusi, serta pemandangan hijau yang menyehatkan mata. Aku masih bisa merasakan sinar mentari sore itu, sambil tersenyum bodoh ala anak yang belum sampai belasan tahun

SAM_1841

Ketika suatu hari aku berdiri terdiam di menghadap kearah langit biru. Jalan setapak yang dulunya cukup jelek dan menyenangkan untuk jadi track sepeda kini telah di beri paving. Dan pohon randu yang tertata rapi di kanan kiri jalan setapak itu kini telah ditebang, tergantikan oleh tiang-tiang listrik. Aku melangkah maju menuju dam, dan tempat bermainku dahulu kini hanya berupa seonggok sungai kecil yang sekarang berfungsi sebagai jalur pembuangan karena disebelahnya sudah tidak lagi berupa sawah, melainkan sebuah komplek perumahan baru beserta tembok-temboknya yang kotor. Pematang sawah yang dahulu sering kupakai untuk berlari-lari sambil sesekali melewati petani yang lewat kini sudah lenyap. Keceriaan masa kecilku dulu perlahan mengalir seperti limbah komplek yang sekarang mengalir di sungai kecil yang kini menjadi keruh … bahkan aku tidak bisa melihat bayanganku sendiri di pantulan air sungai itu, aku menghela nafas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: