casual day on 7th grade

Aku memakai seragam SMP, bel istirahat berbunyi

Aku segera meninggalkan kelas dan berlari sangat cepat, kelas lain sudah banyak yang juga keluar kelas untuk mengisi jam istirahat. Aku dengan sigap berzig-zag melewati kakak kelas yang hendak ke kantin. Tapi tujuanku bukan ke kantin, tapi ke perpustakaan. Sesampainya di perpus segera kucopot sepatu dan kaus kaki yang sudah molor. Segera aku menuju penjaga perpus. “Bu, buku yang saya tunggu udah balik ke rak novel?” Tanyaku ke ibu penjaga perpus. Beliau menjawab “sudah ndik, baru tadi pagi ibu rapikan”. Segeralah aku melesat ke bagian novel dan menyambar harry potter and the chamber of secret yang sudah kunanti selama seminggu. “Kartu perpus kamu udah hampir penuh nih quota pinjamanya, besok kalau balikin ini sekalian perpanjang ya ndik” kata ibu penjaga perpus sambil mencatat data buku yang akan kupinjam, aku hanya mengiyakan saja dengan hati senang karena akhirnya aku bisa membaca buku idaman.  Setelah mengurus form peminjaman aku kembali ke kelasku untuk menyimpan buku ini di tas.

Namun apes, aku bertemu gerombolan kakak kelas grade 8 (yang kebetulan kelasnya bersampingan dengan kelasku) mereka suka mengejek dan mencemooh, apalagi karena badanku yang kurus dan posturku yang pendek. “Hey ceking, bawa buku apaan tuh?” Kata salah satu dari mereka. “Sini coba lihat!” Temanya menyahut. Aku yang ingin cepat ngacir dari tempat ini menuruti saja perintah mereka daripada ribet, segera kuberikan buku itu ke mereka. “Wahahaha buku ini sih kayaknya lebih berat ketimbang bobot kamu” mereka mencemooh sambil tertawa terbahak-bahak.

Memang begitulah kehidupan SMP, bahan bercandaan mereka sangat tidak lucu. Seringkali mereka mencemooh fisik dan penampilan. Yang lebih sering adalah mencemooh dengan nama orang tua (mungkin di belahan dunia manapun sama). Pada awalnya pasti ada rasa emosi di dadaku, namun seiring waktu aku mulai bersikap acuh dan menanggapi ejekan itu dengan hati tenang. Tidak ada yang tau nasib para pencemooh ini, ada yang akhirnya karena bercandanya kelewatan dan yang diejek tidak terima dia harus babak belur menanggung emosi dari yang di ejek. Atau mungkin mereka yang mencemooh orang tua tidak lama kemudian harus dirundung kesedihan karena berpisah dengan orang tua mereka, Allah memang maha adil.

Dengan menerima ejekan-ejekan dari kakak kelas akhirnya aku dibebaskan, di kelas aku segera memamerkan buku ini ke temanku, cholis. Dia terkagum-kagum “kamu beneran mau baca ini?”. Aku menjawab “nah, aku kan udah baca buku pertama, dan ternyata seru banget maka saatnya untuk baca buku kedua”. Lalu obrolan kami terus berlanjut. Yak, layaknya siswa cupu pada umumnya, akupun memiliki teman-teman yang sangat dorks, dengan bahan obrolan yang kurang lazim seperti kamen rider, playstation dan sebagainya. Sementara anak-anak keren sibuk membicarakan pacar mereka atau bercerita kalau mereka mulai merokok.

Seharian itu aku tidak sabar ingin segera pulang sekolah dan membaca harry potter yang baru saja kupinjam. Disaat murid-murid pintar sibuk les dan belajar dan murid-murid gaul sibuk nongkrong di warung kopi sambil merokok ataupun berpacaran naik motor. Aku cukup di rumah saja, membaca harry potter sambil tiduran di ruang tamu, dengan sensasi pusing karena istilah-istilah baru dalam buku yang masih sulit dicerna siswa SMP grade 7. Setelah kupikirkan ternyata saat nonton filmnya rasanya gampang sekali mengartikan suatu istilah itu, aku hanya tersenyum sambil mengingat barisan kata di novelnya.

Buku setebal itu nyaris rampung dalam waktu 3 hari, entah kenapa dulu aku sangat bersemangat melahap buku. Tidak seperti sekarang yang malas-malasan, mungkin juga karena dahulu belum ada twitter dan mood masih terjaga, sehingga sangat asyik berkonsentrasi pada buku.

Jam di dinding menunjukan pukul 2 petang, usai sudah aku membaca petualangan epic harry potter yang sebenarnya pada beberapa hal masih membingungkan namun sebagian besar isi cerita sudah bisa kubayangkan dan kucerna. Buku ini sangat dahsyat (untuk umuranku saat itu), gumamku. Kutaruh buku tebal itu disamping bantalku, dan aku beranjak tidur … Besok buku ini akan kukembalikan, bedanya aku tak perlu berlari tergesa-gesa dan bermanuver zig-zag sepanjang koridor. entah siapa yang sudah mengincar buku ini untuk mendapat giliran meminjam, aku harap penantianmu tidak sia-sia.

Saat aku menutup mata, lamunanku berhenti. Sekarang aku sedang menulis menggunakan Word To Go di blackberry bututku. Sambil mengingat isi dari buku harry potter and the chamber of secret. Its been a long time Hendik, you already grown up now🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: