disadarkan angin yang berhembus

Siang itu, langit mendung …

Dan kali ini saya lagi fase melancholia, dimana sedikit sekali bercanda … lebih banyak melamun.

Terkadang bisa sedih dan down, terkadang bisa senang tidak jelas. Tapi kalo dipikir-pikir lagi ternyata emang udah lama banget nggak kayak gini. Hal ketika kamu sangat mudah sekali dirasuki lyric lagu, atau adegan-adegan romance dalam film.

Seperti yang sekarang aku lakukan, menonton film roman … well, film roman mandarin, china. Entah kenapa biasanya saya paling ogah nonton film asia selain jepang, bahkan korea aja jarang-jarang. Tapi karena ini sifatnya nobar ama teman-teman kampus maka saya paksain aja nonton.

Seperti yang saya duga, kisah cintanya bakal menginspratif dan romantic (ya iyalah) karena yang milihin film si teman yang udah pakar ama film-film Asian.

Setelah film usai, aku meninggalkan ruangan dengan layar PC yang sangat mantap untuk acara nonton bareng itu. Seperti biasa, kepalaku dipenuhi hal-hal rumit tentang asmara yang masih anget-angetnya … again, it’s been a while

 Kulangkahkan kaki ke beranda kost teman yang kebetulan kamarnya terletak di lantai 2. Ketika tiba di luar. Aku bersandar di beranda memandangi langit yang gelap karena mendung. Tiba-tiba datanglah kejadian yang tidak terduga.

Angin tiba-tiba berhembus dengan lumayan kencang namun lembut. Menghembus kumpulan ujung pohon bambu yang sengaja ditanam di daerah belakang kost, seberang sungai yang melintasi jembatan sukarno-hatta.

IMG02564-20130601-1306

Kumpulan daun warna hijau yang meliuk-liuk di depan mataku. Selama beberapa detik aku terbuai lamunan. Dan entah kenapa … mendadak beban pikiran tentang chapter ini tiba-tiba menjadi sedikit lebih ringan

Hey hendik, apa kau ingat kisahmu yang sudah berlalu? Dimana kamu bahagia, dimana kamu bersuka cita, dimana kamu meratap, dimana kamu menemukan sinar dalam kegelapan dan juga berusaha untuk bangkit setelah terjatuh.

 

Sebenarnya tidak ada yang berubah selain dirimu sendiri. Dan tidak ada yang bisa merubahnya selain dirimu sendiri juga.

 Sekarang aku melihat ke arah langit yang gelap. Kunikmati hembusan air yang membuat rambutku acak-acakan dan dinginya merembes ke wajahku.

Apapun yang akan terjadi di kisah ini, baik itu akan berakhir baik atau buruk. Aku tak akan berhenti sebelum tau kalau aku harus berhenti

-“Jika tak dicoba tak akan tau”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: