tell a dream #1 smoke on the rooftop

sometimes i had really weird-random-unexpected dreams and usually this dream even not related to myself, and i try to tell those dreams… for you. maybe it will boring or something, but for me some of my dreams are quiet interesting to be shared with you

 

malam itu aku duduk di halaman sebuah rumah yang cukup besar. duduk termenung sambil memandangi sepasang sepatu yang ku kenakan. sesekali terdengar bunyi ribut kelakar tawa dari sebuah kamar lantai dua rumah ini. kupandangi jendela kamar yang terbuka itu, tampaklah tiga buah siluet gadis yang sedang bercanda dan tertawa-tawa. good job, sedangkan aku hopelessly terjebak di situasi ini.

“ayolah, kita cuma mau copy foto-foto liburan kita. habis itu janji langsung pulang deh”

rengekan itu terngiang di kepalaku, sebuah rengekan sekitar beberapa jam yang lalu yang kini seolah terus-menerus mengejek karena akibat rengekan ini akhirnya aku benar-benar mati gaya berdiam diri di halaman rumah ini sekarang

satu dari tiga gadis menyadari kalau ada orang di luar rumah, seketika dia membuka gorden kamar dan menengok keluar jendela.

“oh, ternyata kamu… kenapa nggak ikut masuk?”

mulutku menganga melihat gadis yang kini berdiri dibalik jendela lumayan berbeda dari 3 tahun yang lalu. kini dia telah memotong rambutnya menjadi sebahu meskipun tubuh kurus, matanya yang segaris ketika tersenyum dan tertawa dan senyum manisnya tetap tidak berubah.

“jadi kamu mau ngelanjutin melongo apa kubukain pintu nih?” lanjutnya sambil tertawa ringan.

“o…oh gausah repot-repot aku cuma nganter mereka kok, nunggu diluar juga gak apa-apa” jawabku

“tidak terlihat seperti itu dari raut mukamu tadi saat menunggu, yasudah tunggu ya… aku turun bukain pintu” balasnya, dan sebelum aku menjawab dia sudah berlari turun dari kamarnya untuk membuka pintu rumah.

sejenak kemudian pintu depan terbuka dan dia berdiri di ambang pintu. kaos hitam serta rok santai yang juga berwarna hitam, sepertinya dia belum sempat ganti baju yang lebih santai sebelum akhirnya kami datang

mungkin habis keluar sama seseorang, bisa saja  sama cowoknya

“ayo masuk” ujarnya sambil kembali tersenyum

aku berjalan mendekat, melepas sepatu, dan kemudian masuk ke rumahnya.

“ikut ke kamar atas aja, tenang udah gede sama gede haha” lanjut dia, aku mengiyakan saja lalu melangkah di belakangnya, lalu mengikutinya menaiki tangga menuju kamarnya.

kamarnya masih diributkan oleh dua makhluk yang cukup bawel ngoceh sambil melihat galeri foto di komputer.

“hey kalian, kok tega sih nyuruh dia nungguin di luar?”

“dia kan cowok masak ikut masuk ke kamar cewek, lagian juga udah biasa…” sahut mereka

“tapi kan ya kasihan, udah malem gini kan…”

“ah gak apa-apa kok” aku memotong

“tuh kan, aslinya gak apa-apa” sahut salah satu dari mereka

“dan kalian, katanya cuma mau copy foto liburan? kok lama banget?” sahutku

“yaaa ini juga lagi nge-copy, tapi kan sambil dilihat-lihat dulu”

“pasti lama tuh mereka tunggu di teras kamar aja gimana?” lenganku digandeng sebuah tangan lembut menuju teras kamar yang juga terletak di lantai dua.

agak lama kami cuma diam di teras tanpa kata sambil dihembus angin malam. tanpa sengaja kami saling menoleh lalu secepat kilat juga kami kembali menatap lurus kedepan

“tiga tahun, eh…?” ujarku

“haha, lumayan lama juga ya kita enggak ketemu?” ujarnya

“ka..kamu lumayan berubah” aku memberanikan diri menatap wajahnya. rambutmu yang sekarang membuatmu terlihat lebih cantik…”

“kamu juga lumayan berubah kok, nggak pakai kacamata dan nggak lagi berambut kayak landak… kamu jadi terlihat lebih gagah, haha” ujarnya. dia juga memandangiku, sesekali mata kita saling memandang

tiba-tiba dia mendekat “dan wah, ternyata kamu tambah tinggi ya? sekarang aku cuma se pundak kamu…” celetuknya sambil berjinjit dan tersenyum. kini tinggi kita nyaris sama.

“jadi… benar adanya kalo kamu balik ke kota ini buat ngambil kuliah disini?” tanyaku

“iya, soalnya kamu tau sendiri emang cita-citaku buat kuliah di kampus ini yang bisa dibilang cukup nggak terduga berada di kota kita” jawabnya

“bagaimana kehidupan SMA kamu?” tanyaku lagi

“hahaha kayak di sini pas SMP dong, aku jadi pemimpin yang nguasain sekolah” ujarnya lagi sambil melontarkan tawa keras yang dibuat-buat

“dan aku jadi ingat kalo kamu memang cewek berandalan” ujarku sambil ikut tertawa pendek

“dan kamu si cupu yang selalu menemaniku ketika nggak ada cowok lain yang berani dekatin cewek berandalan ini…” ujarnya, kami berdua tertawa. suasana sudah berubah menjadi sedikit hangat

ditengah obrolan kami yang makin meluas tentang masa lalu dan bagaimana kita saling menghabiskan waktu 3 tahun belakangan ini tiba-tiba aku melihat sesuatu yang tidak asing di teras ini: sebuah tangga kecil menuju atap rumah.

“hey itu ternyata masih dipasang disitu?” tanyaku sambil menunjuk ke tangga tersebut. dia tertawa pendek

“hahaha, aku hampir lupa kalo itu tempat favorit kita berdua, ayo naik!”

maka kami berdua memanjat tangga kecil itu menuju atap. lalu kami merebahkan diri di atap sambil menatap ke langit. terngiang terakhir kali ketika aku merebahkan punggungku disini 3 tahun yang lalu…

“minggu depan aku sudah enggak disini lagi” ujar seorang cewek berambut panjang yang berbaring di sebelahku.

aku segera beranjak dari posisi berbaring dan memakai kacamataku sambil memprotes, “tapi kenapa? kamu mau kuliah di kampus idamanmu itu kan? kenapa gak sekalian SMA disini?”

“mau gimana lagi, kampus itu standardnya bagus… tapi tau sendiri di kota ini SMAnya kualitasnya biasa saja. tau sendiri ayahku tidak suka sekolah yang enggak berstandar tinggi” jawabnya disertai helaan nafas yang panjang.

“kamu ini kan cewek berandal, orang tuamu juga sering dipanggil gara-gara kasus kenakalanmu. yang berantem lah, bolos lah, ngerusak properti sekolah lah…” balasku.

“tapi aku nggak dikeluarin kan? aku juga yang nilainya paling bagus dan berprestasi di sekolah itu… nggak kayak kamu” sahutnya sambil mengejek.

“tetep aja, ngapain kamu sekolah di sekolah yang baik dan tertib kalo kamu bakal tetep bersifat berandal gini? mending cari SMA yang sama-sama berandalanya” aku tetap kukuh memprotesnya.

“berapa kali sih aku bilang ke kamu. aku sekolah di sekolah yang reputasinya baik namun bersikap nakal kayak gini buat ngebuktikan ke mereka kalo nggak semua anak berandalan itu murid yang bodoh!”  jelasnya.

dia melanjutkan, “dan lagian nggak seru kalo sekolah yang bakal kumasukin udah nggak bisa dirusak lagi, kalo sekolahnya baik-baik kan ada tantanganya” ujarnya sambil nyengir.

tau kalo aku sudah tidak bisa membujuknya lagi, aku pun diam. ingin rasanya menangis mengingat dia adalah satu-satunya cewek yang bisa membuatku senang meskipun aku seorang penakut dan selalu disakiti.  dia yang selalu membuat orang lain yang mengolok-oloku lari terbirit-birit. dan… dia gadis cantik yang entah aku mendapat keajaiban dari mana sehingga dia mau dekat denganku, si mata empat rambut landak yang bahkan si gendut betty tidak mau ngobrol denganku.

“empat hari lagi ada karnaval di taman kota, mu..mungkin kita bisa kesana sebelum berpisah…?” ujarku putus asa

…………………………………………………………………

kami berjalan menyusuri karnaval malam ini. beragam hal menyenangkan sudah kami lakukan, dan karena bingun mau ngapain lagi akhirnya yang terlintas di pikiranku cuma berjalan-jalan di karnaval ini. setidaknya aku bisa dekat denganya lebih lama sebelum akhirnya berpisah. namun langkah gembira kami berdua tidak berlangsung lama ketika tiga orang cowok menghadang kami.

“eh nona manis ini lagi-lagi jalan berdua ama si kepala landak, harusnya kamu jalan sama kita-kita aja yang sama-sama anak nakal di sekolah..” kata salah satu dari mereka.

mereka adalah trio nakal yang suka sekali menggangguku di sekolah, entah mengapa aku bisa apes bertemu mereka di suasana “perpisahan” ini.  aku tidak suka gelagat mereka, dan segera menunjukan isyarat kalo aku ingin segera pergi dari sini

“hey mau ke mana sih buru-buru amat?” sergap zaki yang berbadan paling besar. “habis pacaran kok buru-buru kabur, apa kita mengganggu?”

“KITA ENGGAK PACARAN!” teriaku kesal. dan mereka bersorak kaget melihat si cupu tiba-tiba menjadi gusar

“ted, sam, zak kita udah lulus… sampai kapan kalian mau ganggu dia? mau berurusan denganku lagi?” malaikat disampingku lagi-lagi melindungiku dari para pengganggu ini

dan ketiga pengganggu terlihat takut seperti biasanya mungkin mereka akan lari terbirit-birit. namun ada yang aneh,  ketiganya tampak berpandangan dan mengangguk seakan mereka sudah punya rencana. tanpa kami berdua sadari ted dan zak yang berbadan besar mendorong kami berdua sampai jatuh dan ketika aku bangun aku mendapati pemandangan yang tidak menyenangkan.

“HEY LEPASIN DIA” teriaku berlari mendapati ted dan zak memegangi tangan gadis berandal yang kukasihi, namun sam menghalangiku.

“aku habisin kamu beneran kali ini” ujar sam sambil memukul wajahku dengan sangat keras. aku terpelanting dan kacamataku pecah. sambil menahan perih di bibir yang berdarah aku bangkit kembali

kini aku benar-benar sangat marah…

kekesalan selama tiga tahun di bangku SMP  belakangan karena perlakuan mereka bertiga mencapai puncaknya malam ini…

dengan pandangan buram aku berteriak menghampiri bayangan yang tadi menyerangku, memukulnya bertubi-tubi dengan pukulan paling kuat yang kulontarkan sampai kami berdua terjatuh berguling-guling di tanah, aku terus memukul sampai kulihat dia sangat ketakutan. tak lama kemudian kedua temanya juga mendapat hadiah tendangan dan pukulan dari seorang gadis yang sudah terbiasa berkelahi di sekolah. mereka bertiga akhirnya lari sambil terseok-seok mendapati rencana mereka gagal karena keberanianku yang entah datang dari mana.

“hey, kamu nggak apa-apa?” suara lembut itu membantuku berdiri

“nggak apa-apa, kacamataku sepertinya pecah tapi aku baik-baik saja” jawabku

“wow, kamu tadi berani sekali. ini pertama kalinya aku lihat kamu seperti ini… bakal jadi berita besar tiga pembuat onar lari terbirit-birit dipukul si rambut landak” ujarnya lagi sambil terkekeh pelan

“hey… ini nggak lucu dan bibirku mulai terasa sangat perih, bisa kita pulang sekarang?” protesku

“oh iya mari kita pulang dan obati luka di bibirmu” jawabnya sambil memungut pecahan dari kaca mataku. “kau baik saja tanpa ini?”

“yeah, buram tapi aku masih bisa melihat dalam buram karena lampu-lampu jalanan ini” ujarku.

kemudian kami berdua berjalan pelan menuju rumah sampai akhirnya kami menjumpai  sebuah jalan gelap yang tidak diterangi lampu jalanan. aku benar-benar tidak bisa melihat dengan jelas arahku berjalan dan akhirnya aku sedikit panik.

“LIA, TUNGGU!” seruku sedikit berteriak

“ya?”

“disini gelap sekali, aku benar-benar tidak bisa melihat dengan jelas arah kita berjalan, bo..bolehkah aku gandeng tanganmu?” tanyaku

“i…itu juga kalo kamu gak keberatan kita bergandengan tangan”lanjutku

aku memang terlalu malu untuk terlalu dekat denganya, apalagi bergandengan tangan. tapi entah mengapa hasrat di dadaku selalu menginginkan agar aku sedekat mungkin denganya

“bodoh, bisakah kamu berhenti meminta izin untuk segala hal?” ucap lia, aku tau dia sedang tersenyum.

kemudian dia menggenggam tangan kiriku, sebuah genggaman tangan lembut paling lama yang pernah aku rasakan sepanjang sisa jalanku menuju rumah. tangan lembut yang akan selalu ku ingat.

sesampainya di depan rumahku kita berpisah. dan dia berkata sesuatu sebelum meninggalkanku “sekarang aku yakin kamu tidak apa-apa setelah ku tinggal, kamu sudah bisa melindungi dirimu sendiri. dan tadi adalah hal paling berani yang pernah kulihat”

pipiku di kecupnya….

 kemudian lia pergi meninggalkanku berdiri terdiam di depan rumahku. aku tidak peduli bagaimana cara menjelaskan tentang luka di bibir dan kacamata pecah ke orang tuaku. yang aku pedulikan hanya gadis yang barusan mencium pipiku. mungkin aku suka dia, mungkin ini cinta…

kembali ke atap rumah dimana langit hanya terlihat sedikit bintang, mungkin karena salah satu bintangnya kini sedang berada di sampingku. angin malam semakin dingin menusuk kulit, namun aku tidak mau beranjak dari sini dan sepertinya lia juga tidak mau. tiba-tiba lia mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. mengambil sebuah batang dan menghisapnya. aku baru tau kalo dia sekarang juga merokok. aku cuma diam, bukan sesuatu yang terlalu buruk.

“jadi lia si nakal yang kukenal sekarang juga merokok?” tanyaku pelan memecah suasana. “gadis berandalan emang beda ya?”

lia tersenyum, “oh maaf…” dia segera mematikan rokok itu dan membuang sisa putungnya. “aku percaya kamu tidak merokok kan? kamu anak baik-baik” lanjutnya. “aku pun nggak tau kenapa aku jadi suka merokok, tapi sumpah aku cuma ngerokok gak yang lain-lain, kamu percaya kan?” ujarnya sambil nyengir.

“ah aku gak bakal jauhin kamu cuma gara-gara kamu merokok, sama halnya aku gak ngejauhin kamu meskipun kamu biang onar saat kita SMP dulu” jawabku santai

“hmmm, mungkin aku bakal berhenti merokok… kalau kamu ingatkan setiap hari” dia menggeser duduknya dan kita berdua semakin duduk berdekatan.

rasa nyaman itu mulai hadir, rasa nyaman yang selalu kuingat ketika aku berada di dekat lia… apapun yang telah kita alami selama 3 tahun berpisah, lia tetaplah lia yang dulu.

“a..apa pacarmu tidak pernah mengingatkanmu? atau jangan-jangan pacarmu juga merokok?” tanyaku dengan sedikit putus asa memastikan ketakutanku

“hahaha ngomong apa sih aku mana ada pacar, aku gak punya pasangan kok” jawab lia sambil tertawa

“seorang gadis cantik sepertimu tidak ada yang mendekati? aku tidak percaya” lanjutku, sedikit lega dengan jawbanya tadi tapi aku ingin lebih memastikan

“banyak yang berani atau berpura-pura berani mendekatiku, tapi aku tau kalau sebenarnya ujungnya tidak ada dari mereka yang tulus. tidak seperti kamu yang memang sampai sekarang masih suka malu-malu… tapi aku tau hatimu tulus tanpa ada maksud yang macam-macam. itulah mengapa sejak SMP aku suka menghabiskan waktu bersamamu…” ujarnya, hatiku menjadi ringan bagaikan kini muncul sepasang sayap mendengar penjelasanya. “…dan aku juga tau kalau kau tidak berubah dan masih seperti dulu, ini aneh tapi sebenarnya sejak kita bersama 3 tahun yang lalu aku selalu merasa tentram kalau berada di dekatmu” lanjutnya sambil tersenyum

“dan kini kamu disini…”

“di tempat favorit kita dahulu…”

“3 tahun berpisah akhirnya aku menyadari satu hal…”

“mungkin terdengar bodoh, tapi aku  merindukanmu… entah mengapa”

ini hari yang sangat indah dimana aku akhirnya bertemu lagi dengan lia, sebenarnya aku sempat sebal dan tidak ingin bertemu lagi dengan lia karena aku tau dia akan melupakanku. karena aku cuma manusia yang tidak pantas diingat namun ternyata ia merindukanku.

“lia, se…sebenarnya aku  senang banget bisa ketemu kamu lagi” ucapku .lia tersenyum

“dan bisakah kita duduk lebih dekat lagi? a…anginya sangat dingin”

“oke bodoh, kamu memang tidak bisa berhenti meminta izin untuk semua hal yang tidak penting” ujarnya sambil duduk mendekat dan menyenderkan kepalanya di bahuku

kuharap dua orang cewek dibawah atap ini lebih lama lagi men-copy foto disertai “dilihat dulu mana foto yang bagus buat diedit terus di upload”

untuk gadis dengan nama belakang fitrilya, kita gak saling kenal tapi entah mengapa aku bisa bermimpi dan berdelusi seperti ini. aku hanya merubah mimpiku menjadi barisan kata… selebihnya seluruh kejadian ini cuma jadi bunga tidurku belaka, tidak ku karang untuk tujuan tertentu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: