My Beloved Grandma

kamis 21 agustus 2014 sekitar jam 10 malam, neneku tercinta akhirnya berpulang…

“TEEEEET!” bel rumah kupencet dengan menginjakan kaki di atas kursi ruang tamu teras. tubuhku yang mungil tidak sanggup menjangkaunya. sejenak kemudian nenek membuka pintu sambil tersenyum.

“lho le, kok gak ngabari yen arep teko?” (lho nak, kok enggak kasih kabar mau datang kesini?) sambutnya sambil memeluk diriku

“aku kangen buk ti” (aku memanggil sosok yang sangat kusayangi tersebut dengan “buk ti” entah darimana panggilan itu, dari semua saudaraku hanya aku yang menggunakan panggilan itu) jawabku

dua hari kedepan adalah hari yang berbahagia berkunjung ke rumah nenek. setiap pagi selalu nasi pecel hangat sudah tersedia menemaniku menonton TV pagi. dengan sayang nenek ku selalu membuatkanku teh manis. teh manis paling nikmat yang pernah kuminum. belum lagi saudara-saudaraku yang datang ketika tau aku berkunjung. rumah yang luas itu begitu ramai. aku sangat senang sekali melihat senyum nenek yang kedatangan cucu-cucu kesayanganya.

“TEEEET!” bel rumah yang kupencet sambil berdiri diatas kursi. seperti biasa nenek akan membukakan pintu. dia mengelus rambut cepak yang sangat cupu.

“lha endi mamakmu le?” (mama kamu dimana nak?) tanya dia

“iseh kojah karo mbak ut ning ngarep buk ti” (masih ngobrol di luar sama mbak ut) jawabku

“kowe wis mangan le? buk ti masak opor ayam wenak” (kamu sudah makan? nenek masak opor ayam enak) lanjutnya

“durung buk ti, imbuhi yo” (belum nek, cepakin makan ya) sahutku manja. lalu aku mengikuti nenek ke dapur untuk makan opor ayam dari surga buatan nenek.

“rioyo sesuk solat bareng maneh yo le, bapakmu gak mrene to?” (lebaran besok shalat bareng lagi ya nak, bapakmu nggak kesini?) tanya nenek. beliau sedang kutunggui memasak di dapur yang bertembokan anyaman bambu dan batu bata yang cuma disemen untuk merekatkanya.

“bapak neng bali ndisik buk ti, iyo sisuk solat bareng… dulur-dulur podo rene kan?” (bapak ke bali dulu nek, iya besok solat bareng… para saudara pada kesini kan?) jawabku

“iyo, sesuk awan karo nanda tak ajak neng pasar kuto cepu yo. tak tukokne dulinan” (iya, besok siang sama nanda saya ajak ke pasar kota cepu ya, saya belikan mainan) sahut nenek

“asyiiiiik…uhuk-uhuk” jawabku girang sampai tanpa sengaja terhirup asap batu arang yang digunakan untuk memasak dan terbatuk-batuk.

lebaran semua berkumpul dan rumah nenek menjadi sangat ramai

teringat saat semua keluarga besar berkumpul semua, sangat ramai aku dan kaki kecilku berlarian di rumah yang luas bersama para saudara

teringat saat kakak sepupu main bola di lapangan dan kakinya berdarah terkena beling. nenek sangat panik

teringat saat aku membaca buku dongeng yang sangat lawas di rumah nenek

teringat saat aku menggodai adik-adik sepupu dengan topeng pendekar peninggalan kakek sampai mereka menangis

teringat saat aku memainkan NES bersama adik sepupu dan kami ribut sendiri sampai nenek datang melerai

teringat saat asmaku kumat dan nenek dengan setia menungguiku

teringat aku memijit kakinya di kamar nenek yang bertembok kayu

“TEEEET!” aku memencet bel pintu rumah, kali ini aku berjinjit dengan usaha sangat keras dan akhirnya bel itu terpencet dengan susah payah

tidak ada yang membukakan pintu, aku masuk lewat pintu belakang. kulihat pintu kamar nenek terbuka, beliau sedang tidur sambil mendengarkan radio. kali ini aku kerumah nenek sendirian karena mamaku sedang ada tugas kantor dan aku disuruh pergi ke rumah nenek karena aku sedang libur. sore itu nenek bangun, kita mengobrol seperti biasa ketika tiba-tiba telpon rumah berdering, aku mengangkatnya… dari mamaku

“le kowe sesok sunat yo…” jantungku langsung berdegup kencang, besok aku disunat… dirumah nenek,

aku takut…

“AAAAAH!” aku mengaduh kesakitan. aku habis jatuh dari motor dan luka di dengkul yang lumayan parah terasa sakit sekali saat dibersihkan dengan alkohol oleh ibuku, aku terbaring di kamar depan rumah yang beranjang double. disebelahku terbaring nenek yang perutnya diperban, beliau terkena diabetes dan sedikit saja luka di tubuhnya… maka luka itu akan susah sembuh dan kian memburuk. namun beliau masih sehat dan tertawa-tawa melihatku menjerit ketika lukaku dibersihkan

“mangkane to ojo kakean polah” (makanya jangan kebanyakan tingkah) kata ibuku gusar

“ben, podo borok’en ben turu bareng pisan” (biarin, sama-sama luka biar tidur bareng sekalian) lanjut ibuku

aku dan nenek yang berbaring bersebelahan saling memandang dan tertawa

“cerewet yo buk ti anakmu iki” (cerewet ya nek anakmu ini) candaku diiringi suara gusar ibuku beserta tawa nenek yang makin keras.

“TEEEET” bel pintu kini kupencet tanpa merasa kesulitan karena aku tumbuh menjadi seorang pemuda yang tinggi. nenek membuka pintu dengan wajah mengantuk

“lho kowe teko nik” (lho kamu datang nik, nik adalah panggilan untuk mamaku)

“piye buk ti, sehat?” (gimana nek, sehat?) tanyaku

“alhamdulillah, ayo mlebu” (alhamdulillah, ayo masuk) jawabnya

tahun ini berangsur sepi… semua sibuk dengan dunia mereka masing-masing. kini aku mengobrol dengan nenek di ruang keluarga.

“…aku arep kuliah buk ti” (aku mau kuliah nek) kataku memulai topik baru

“kuliah neng ndi?” (kuliah dimana?) jawabnya

“pingine nek gak suroboyo yo malang” (pengenya kalo nggak disurabaya ya dimalang) jawabku

“neng suroboyo wae, nek malang adoh… engko buk ti angel nek pingin niliki” (di surabaya aja, malang jauh… entar susah kalo pengen jenguk) lanjut beliau

“iyo bukti, koyoke pancen enak suroboyo” (iya nek, kayaknya emang lebih enak surabaya) jawabku

namun aku tidak bisa membuktikan kata-kata itu. semua tes PTN di surabaya aku gagal, dan akhirnya diterima di malang…

dan benar, nenek tidak pernah sekalipun bisa menjenguk diriku saat kuliah di malang sampai malam ini….

kubenarkan kacamataku yang melorot, kini aku sudah memakai kacamata yang cukup tebal. hadiah dari kelalaian menjaga kesehatan mata sedari kecil. aku menonton TV di ruang keluarga rumahku ketika suara di kamar depan memanggil

“leee…leee…” (nak…nak)

aku bergegas ke kamar depan, nenek ku berbaring tak berdaya

“panas le…” (panas nak) ujarnya

kunyalakan kipas angin. “piye wes adem?” (gimana udah dingin?) tanyaku

beliau mengangguk. “aku ndelok tipi yo buk ti, nek butuh opo-opo celuk wae” (aku nonton tivi ya, kalau butuh apa-apa tinggal panggil saja” ujarku lagi. beliau mengangguk dan melanjutkan istirahatnya

kini aku sedang membaca komik sambil tiduran, komik itu adalah infinity gauntlet dari marvel. aku tiduran di sofa ruang rawat inap rumah sakit menunggui nenek yang sedang terbaring menonton tivi.

“le, iki wis ashar?” (nak ini udah ashar?) tanya nenek tiba-tiba

“uwis koyoke buk ti” (sepertinya sudah nek) jawabku

dan kemudian nenek ku memejamkan mata, kemudian menggerakan tanganya sesuai gerakan shalat ketika sakit sembari bergumam “Allahu Akbar”

aku memandangnya dengan mata berkaca-kaca, kutinggalkan komik yang sedang kubaca. terharu diriku melihat nenek yang sangat kusayangi tetap berusaha beribadah walau anggota badanya sudah lemas dimakan usia.

“wuuu…wuuu” sosok nenek yang kusayangi kini sudah tidak bisa menggerakan lidahnya dengan benar, badanya kaku dan hanya bisa bergumam sambil berisyarat untuk berkomunikasi. sungguh aku malu mengingat dosaku dikala itu. aku sempat marah karena televisi kecil yang tidak terpakai dirumah akhirnya dipasang di kamar nenek sedangkan aku sendiri tidak punya televisi di kamar kost walau akhirnya aku mengalah namun memendam sedikit rasa sebal pada ibuku…

aku sungguh malu atas keegoisanku kala itu, maafkan diriku ini nek…

hari ini H-1 Ramadhan 2014

aku berziarah ke makam kakek, menaburkan bunga ke makamnya. aku berdoa untuk kakek dan berdoa agar ramadhan tahun ini penuh barokah. semua yang hidup pasti akan mati, untuk itulah ziarah kubur untuk senantiasa mengingatkan kita

selanjutnya aku pergi ke rumah nenek yang tidak jauh dari makam. disana ada mbak ut yang menjaga beliau. kaget karena aku tiba-tiba berziarah makam kakek dan menjenguk. aku tidak tau mengapa… aku tiba-tiba tergerak untuk naik motor di siang yang terik selama satu jam lebih untuk kesini

nenek ku tercinta masih tidak ada perkembangan ketika kujenguk di kamarnya. kulihat dengan lekat kedua matanya, beliau hanya balik memandangiku sambil terdiam di ranjangnya

“mungkin nenek udah nggak ingat aku ya mbak…” kataku sedih

“jangan ngomong gitu, dia ingat pasti ingat kok” kata mbak ut

lalu aku dan mbak ut mengobrol di ruang tengah, obrolan yang cukup keras. dan mungkin nenek mendengarnya sampai tiba-tiba beliau setengah berteriak “ndiiiik…ndiiiiik”

aku meloncat gembira dan segera ke kamarnya. beliau kini memandangku sambil tersenyum. aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memandang dengan mata berkaca-kaca

“iya kan, dia pasti ingat… dia cuma harus mengingat suara kamu” kata mbak ut

nek besok adalah bulan suci Ramadhan, semoga jadi bulan yang penuh berkah untuk kita semua

takbir berkumandang…

tahun ini rumah kembali jadi sangat ramai. akhirnya keluarga besar ini berkumpul lagi setelah beberapa lebaran tidak berkumpul secara besar-besaran. kulihat nenek sangat bahagia melihat banyak sekali orang yang menjenguknya walau mungkin beliau sudah tidak ingat kalau mereka adalah anak serta cucunya. semua saudaraku berusaha membuat nenek ingat siapa mereka dan akhirnya berhasil. nenek terlihat mulai mengenal mereka… semua orang dari anak, cucu seperti generasiku, bahkan keponakanku yang berarti adalah cicit dari nenek. semua mendoakan nenek agar cepat sembuh. tawa bahagia keluarga besar yang sudah beberapa tahun tidak kulihat.

nek kami semua ada karena dirimu, kami berjanji akan meneruskan hidup sebagai generasi penerus nama-mu. kami berjanji akan membuatmu bangga di alam sana…

di malam yang dingin, aku lupa membawa handphone. saat aku sudah kembali di kamar aku melihat ada 3 panggilan tak terjawab dari mamaku. setelah kuhubungi mamaku balik, ternyata nenek sudah dipanggil oleh Tuhan…

berita yang sangat tiba-tiba…

nek, banyak hal yang ingin kutunjukan padamu…

aku ingin menunjukan fotoku saat jadi sarjana (yang kuharap sebentar lagi terwujud)

aku ingin mengenalkanmu pada sosok wanita yang kucintai kelak

aku ingin membawa anak ku untuk kukenalkan kepada nenek buyutnya kelak

aku… cuma ingin memelukmu saat ini, ingin mencium keningmu, ingin mengulangi masa kecilku bersamamu, masa kecil yang berbahagia… cuma ingin mengatakan kalau aku sangat sayang padamu nek…

salam untuk kakek di surga ya nek, aku tau… kau akan tetap melihatku menapaki kehidupan dari alam sana. tersenyum menungguku mengucapkan “buk ti, aku buatin teh ya?”

Emak, Bapak dan Nenek

Emak, Bapak dan Nenek

SAM_2210

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: