Sweater Kuning

Pagi hari ini diselimuti oleh kabut yang sangat pekat. Pagi memang masih terlalu dini, seorang perempuan memakai Sweater warna kuning polos tengah berjalan sambil melipat tangan di dada, menahan hawa dingin pagi ini. Asap tipis keluar perlahan dari hidung dan mulutnya ketika dia menghembuskan nafas. Ya, pagi ini memang dingin, tapi dia tidak peduli karena tanggal ini adalah tanggal yang spesial untuknya.

Sesampainya di sebuah taman kecil di pinggiran kota. Dia duduk di sebuah bangku panjang berwarna merah. Dia menatap sebelahnya yang kosong tidak ada yang menduduki.  Satu tahun yang lalu, di sebelahnya tengah duduk seorang pria, pria yang sangat dia cintai.

Setahun yang lalu, bedanya saat itu malam dan banyak orang yang menikmati suasana malam tersebut di taman ini. Namun satu yang sama, udara malam tersebut hampir sama dinginnya dengan pagi ini. Udara dingin akhir tahun. Malam itu terasa lebih hangat, karena sang perempuan sedang menyender di bahu kanan sang pria, dan juga tangan kanan sang pria memeluknya, melindunginya dari hawa dingin.

“Keputusanku sudah bulat, hari ini aku akan pergi, he he he…” ucap si pria dengan tiba-tiba. Membuyarkan beberapa menit suasana tenang dan nyaman mereka.

Si perempuan mengangkat kepalanya dari bahu si pria. “Ta.. Tapi,” ujar si perempuan dengan nada khawatir.

“Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya kan?” si pria mencoba menenangkan.

“Tapi kamu tidak bilang mau pergi ke mana dan sampai kapan,” protes si perempuan.

Si pria tersenyum dan mengusap poni si perempuan, “Tapi kan sudah kuceritakan semua masalah dan alasanku kenapa aku musti pergi?”

“Yang jelas aku akan pergi ke tempat yang cukup jauh, tapi aku tidak akan lupa untuk mampir ke kota ini dan menjengukmu. Aku berjanji,” lanjut si pria.

Si perempuan menggenggam tangan yang membelai rambutnya, “Ajak aku bersamamu.”

“Nanti kalau sudah tiba waktunya, kamu masih punya banyak urusan di kota ini kan? Pendidikanmu? Dan hal-hal lain?” jawab si pria sambil kini membelai halus jemari yang sedang menggenggam tangannya.

“Jangan khawatir, kita jarang bersama tapi baik-baik saja, dan ah… aku melupakan sesuatu,” ujar si pria sambil mengambil sebuah bungkusan dari tas punggung yang dia bawa.

Isi bungkusan tersebut adalah sebuah sweater kuning dengan bordiran logo huruf “S” di bagian dada. Si perempuan menerima hadiah tersebut dengan amat senang.

“Kamu suka?” tanya si pria.

“Ya, suka sekali!” jawab si perempuan.

“Hadiah sebelum kita berpisah sampai waktu yang tidak ditentukan,” ujar si pria.

“Kita tidak akan terpisah selamanya!” balas si perempuan.

“Kau tau? Kau tidak harus mencintaiku dengan keadaan ini, kau bebas mencintai laki-laki manapun di saat aku pergi, jangan sia-siakan waktumu untuk menunggu,” ujar si pria. “Setidaknya dengan memakai sweater ini kamu bisa selalu ingat diriku hehehe,” lanjutnya.

“Aku tak akan melupakanmu, meski keluargamu membencimu dan lebih membencimu lagi ketika tau diriku dekat denganmu!” balas si perempuan.

si pria menatap langit yang sedang bertaburan bintang, “Kau tau, orang tuaku sama sekali tidak membencimu… akulah yang mereka benci. Dan kumohon jangan kau benci mereka, kita akan terikat selamanya dalam jurang kebencian yang tidak bertepi.”

“Kamu memang pria yang baik…” ujar si perempuan. “Sudah larut, kamu tidak mau pulang?” tanya si perempuan sambil memasukan hadiahnya ke dalam tas yang dia bawa.

“Kamu duluan saja, sendiri tidak apa kan? Jalanan sepanjang rumahmu toh selalu ramai,” jawab si pria sambil membantu si perempuan berkemas.

Si perempuan sudah mencangklong tasnya dan bersiap pergi, “Ok, aku duluan ya! Besok kita masih bertemu kan?”

“Iya San,” jawab si pria dengan singkat.

Setelah berpamitan, sosok si perempuan perlahan menjauh. Sang pria kembali duduk ke bangku merah panjang sembari menatap lurus ke pohon besar dengan hiasan lampu-lampu indah di depannya.

“Kamu salah San, aku bukan lagi orang yang baik setelah kepergian ini…” gumam si pria.

*****************

Si perempuan saat ini memandangi sweater kuning yang dia kenakan, kembali ke pagi yang dingin menusuk tulang. “Sweater ini tidak sehangat pelukanmu malam itu, tapi lumayanlah dasar kamu bodoh,” gumam si perempuan.

Setelah malam itu dia tidak pernah bertemu dengan si pria lagi, karena esok harinya taman tersebut terjadi peristiwa yang menggemparkan seluruh warga kota.

Sesosok mayat seorang pria ditemukan menggantung di pohon besar tengah taman tersebut. Setelah dilakukan olah kejadian perkara, pihak keamanan mengumumkan kalau kejadian itu murni bunuh diri. Sampai hari ini motif si pelaku untuk bunuh diri masih belum diketahui oleh banyak orang, sebab tidak ada tanda-tanda depresi atau hal mencurigakan yang berujung tindakan suicidal lain pada kehidupan sehari-hari sebelum korban bunuh diri.

“si bodoh… aku bisa menerima kalau kamu akan pergi jauh, tapi tidak sejauh ini juga…”

Nb: Tulisan ini diperuntukkan untuk orang-orang yang masih berpikir bahwa mati adalah solusi. Juga, saat melihat seragam sweater kuning team T ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: