Side-B Dari Pergantian Tahun

31 Desember 2015,

Saya tahun ini menghabiskan moment pergantian tahun sendirian saja di kamar, membaca komik, menonton video, dan hal-hal biasa lainnya. Itu sangat wajar, saya tidak bisa memaksa teman-teman dan keluarga saya untuk selalu ada di dekat saya. Serta saya juga tidak bisa memaksakan diri saya untuk bisa selalu dekat dengan mereka. Semakin dewasa saya semakin sadar betul berharganya sebuah hal bernama waktu. Sesuatu yang sering sekali saya sepelekan bahkan sampai sekarang.

Laptop menyala di meja, buku komik berserakan, sisa snack dan minuman ringan juga menghiasi kamar saya malam ini. Lagi-lagi bergelut dengan kesendirian, di waktu yang sangat salah untuk galau, ah biarlah… lagi-lagi saya mencoba menghukum diri sendiri, entah sampai kapan.

Terbaring di kasur sambil memandang langit-langit, “Ah sepertinya enak ya kalau countdown tahun baru diakhiri dengan mencium bibir perempuan…”

“Atau setidaknya memeluk perempuan…”

“Atau kalau masih kurang ajar ya pegangan tangan saja deh…”

2014 adalah tahun yang kelam, dan sejak awal 2015 saya sudah menutup diri untuk memberi ruang pada diri saya sendiri. 2015 mungkin ada kesempatan untuk menerima dan melupakan, sayangnya kenapa mereka tidak menggerakan hati ini sama sekali? Apakah rasa cinta saya sudah mati oleh semua rasa kecewa dan rasa sedih yang selama ini saya pendam sendiri saja? Serem banget cuk, saya jadi ketakutan membayangkan hal tersebut.

Nyatanya cuma saya yang masih berdiri di tempat. Para lawan jenis yang sempat membuat diri ini tergila namun entah mengapa mungkin saya bukan orang yang tepat atau mungkin saya yang terlalu bodoh (mungkin sangat bodoh), kini mereka semua (setidaknya dari yang saya lihat) tengah berbahagia dan tidak sedang berdiri di tempat seperti saya.

Terima kasih untuk kalian, saya sama sekali tidak membenci kalian. Dan saya sangat berharap semoga kalian juga tidak membenci saya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya bila mungkin saya sempat menjadi paragraf yang ingin kalian hilangkan dari novel kehidupan kalian, dan saya sangat pantas menerima itu.

Saya selalu punya prinsip kalau sama sekali tidak penting mengumbar kesedihan ke teman-teman atau orang lain. Jadilah diriku ini yang sok tegar di kehidupan nyata maupun social media. Ya gak apa-apa sih, sesedih dan segundah gulana seperti apapun tetap lebih asyik menebar sesuatu yang positif. Setidaknya mungkin saya bisa memberi suatu manfaat ke orang lain.

Saya raih kembali emping pedas yang masih terbuka dari lantai dan saya jejalkan ke mulut saya, terasa gurih, manis, dan pedas. Saya teringat tembang dari Sweta Kartika berjudul “Pangeran Kesepian” dan saya yakin saya bukanlah sosok “Pangeran” dalam lagu tersebut, karena mana mungkin pangeran gegoleran di atas kasur pakai kaos dan boxer serta ngemil emping pedas?

“Mungkin memang saya harus sedikit lebih bisa membuka hati di tahun ini… Semoga tahun ini bisa merajut kisah yang jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.”

Begitu saya selesai bergumam, terdengarlah suara ledakan kembang api disusul geberan motor para kaum yang sering disebut CORDEST. Ntap bos!

Kau selalu sendiri
Sang pemalu yang menunggu
Mencairkan hatimu yang beku

4 responses

  1. nice post.. nggak selamanya sendiri itu menyedihkan kok🙂

  2. Nice post kak.. nggak selamanya sendiri itu menyedihkan kok🙂

    1. Halo Trias, terima kasih sebelumnya sudah meluangkan waktu untuk mampir dan membaca!🙂

      1. Sama2 ^^ keep writing ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: