Do You Love Your Hair?

Saya suka sekali rambut saya.

Rambut saya merupakan bagian yang sangat mempengaruhi look saya di mata orang lain.

Sebentar, mungkin sebelumnya saya tidak terlalu suka rambut saya.

SMA kelas X, saya masih terbawa style rambut saat saya SMP. Potong rambut di pangkas rambut madura, cepak, rapi, super pendek biar nggak cepet potong rambut lagi. Saya masih ingat satu potongan paling fail saat kelas X adalah saat rambut saya jadi macem episode Mr. Bean yang anak potong rambut pakai mangkok padahal niatnya pengen poni keren gitu, namanya juga usaha.

Peralihan dari kelas X ke XI, saya mulai dikenalin musik-musik post-hardcore dan emo sama teman-teman saya. Dari musik, merujuk ke style personil band-band tersebut. Banyak dari mereka yang gondrong berondong dan terlihat keren di mata kita-kita bocah SMA yang masih mencari jati diri. Maka, saat itu teman-teman se-geng pada berlomba-lomba untuk gondrongin rambut dan terlihat Emo, apalagi saat itu banyak dari golongan teman dekat saya yang juga main band se-kaliber gig lokal dan pentas sekolah, pengen keren dong… men!

Problem utamanya, tidak semua model rambut “gondrong sombong berondong” pas untuk semua bentuk fisik teman-teman saya. Ada yang cocok banget dengan model-model gondrong poni lempar Emo, ada yang habis gondrongin rambut malah berujung kayak icon singo edan klub sepak bola Arema.

Buat saya sendiri, karena cukup sakit hati susah menemukan tukang pangkas yang bisa menyanggupi request saya tentang potongan rambut tapi harga jasa pangkasnya santai melambai (tipikal sobat mizkin-tapi-rewel banget ya) akhirnya memutuskan untuk enggak potong rambut sekalian dan membiarkan rambut ini gondrong acak-acakan. Seketika itu pula saya masuk cult siswa gondrong buronan guru BP.

Bayangkan bagaimana serunya, tidak merokok, tidak mengkonsumsi zat berbahaya, hampir tidak pernah bolos (karena ternyata ujung-ujungnya bolos berfaedah tidak cuma alasan malas), hampir tidak pernah ada ribut dengan guru/siswa-siswi lain, nilai rata-rata juga cukup oke, tapi masuk list  most wanted guru BP selama sekolah cuma karena rambut gondrong? Seru kan?

Sekolah saya dulu ada 2 moment yang harus benar-benar diwaspadai oleh kaum-kaum gondrong nanggung. Pertama, patroli harian dari guru-guru yang masuk kategori “benci ketidak rapian.” ini seru karena berasa seperti Assassin Creed saat sehari-hari di sekolah (harus menghindari pandangan guru, serta selalu waspada saat berjalan), lengah sedikit bisa kena tegur, atau lebih parahnya lagi petal* on the spot. Kedua, ada event pengecekan kerapian siswa-siswi yang secara berkala diadakan, lazimnya satu tahun sekali, namun cukup random juga, pernah satu semester sekali diadakan. Yang kedua ini cukup susah dihindari, karena diadakan saat jam pelajaran dan susah cari informasi kapan operasi ini akan diadakan, tidak seperti info internal kapan bakal pulang lebih awal. Saya pun selalu langganan kena operasi kerapian ini, walau pernah sekali atau dua kali lolos. Itupun karena kebetulan lagi tidak masuk ataukah sedang hoki tidak ada kegiatan di kelas (olah raga atau jam pelajaran kesenian).

*Petal adalah bahasa jawa yang lazim digunakan untuk menyebut potongan rambut yang tidak simetris antara permukaan kiri/kanan (yang kanan/kiri lebih pendek dan nggak sama dengan sisi sebaliknya) biasanya untuk efek jera dan harus ke tukang pangkas rambut buat memperbaikinya agar kembali simetris.

Sedikit flashback, tentang bagaimana proses saya mulai menyukai rambut saya. Selesai masa SMA dan masuk masa kuliah, saya menyadari kalau gaya rambut gondrong dan acak-acakan seperti ini memang sangat suit dengan model manusia seperti saya (setidaknya itu yang saya pikirkan sampai saat ini).

Balik lagi ke topik awal, kenapa saya suka rambut saya?

Bagaimana tidak? Rambut saya membuat penampilan saya jadi lebih saya banget. By the way saya orangnya sangat tidak ribet dengan urusan rambut. Saya lebih suka menyisir rambut saya cukup pakai tangan, serta saya sangat tidak memerlukan perawatan/cairan khusus seperti minyak rambut, pomade, vitamin, dan lain-lain. Cukup keramas rutin saja, apalagi kalau sudah terasa lepek atau mulai apek. Minim perawatan, tapi bisa menghasilkan style yang saya suka: Sedikit gondrong dan acak-acakan namun tetap tertata volumenya. Pangkas rambut juga paling cepat 2-3 bulan sekali untuk merapikan rambut yang over. Dengan perawatan yang tidak memakan uang, saya bisa mendapatkan style yang saya suka.

Inti dari postingan ini, meski saya suka terlihat cuek dan acak-acakan masalah rambut. Saya sangat menyukai bagian tubuh ini lebih dari manapun. Semua manusia diberi kelebihan dan kekurangan, tidak ada alasan untuk membenci bagian tubuh tertentu. Dan yang paling penting, selalu ada cerita menarik tentang bgian tubuh kita, terutama rambut. Bagian tubuh yang akan terus menemani kita hingga kita menua dan akhirnya dia berubah menjadi putih dan tidak tumbuh lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: