Sang Kesatria

Seketika orang-orang keluar dari persembunyian mereka walau dengan sedikit rasa takut akibat serangan mendadak barusan. Sebuah jasad raksasa kini tergeletak di tengah jalan raya, di atasnya seorang kesatria dengan senapan di tangan kiri serta sebuah pedang bersinar di tangan kanan tengah berdiri dengan gagah setelah membunuh makhuk tersebut hanya dengan beberapa serangan. Jubahnya berkibar, zirah yang melapisi tubuhnya tampak mengkilap terkena sinar matahari. Merasa situasi sudah aman orang-orang sekitar mulai mengerumuni jasad tersebut. Mengetahui situasi sudah tidak kondusif, sang kesatria mengeluarkan sebuah simbol lingkaran dari baju zirahnya dan mengacungkannya ke langit. Seketika itu juga sang kesatria beserta jasad raksasa hilang dibarengi dengan partikel-partikel kecil berwarna keemasan. Dari pekik dan keriuhan orang-orang, ada sekelompok orang yang hanya melongo dari tadi memandangi kejadian tersebut.

*****

Hari itu hari selasa, cuaca cukup panas siang itu. Seorang pemuda tampak menenteng tas plastik sembari berjalan menuju sebuah kantor. Sesampainya di kantor dia segera menyerahkan tas plastik tersebut ke senior kantornya.

“Ini bu sudah saya belikan titipannya.” kata pemuda tersebut.

“Ok, terima kasih ya Rudi.” balas sang senior.

Tak lama kemudian manager kantor keluar dari ruangannya dan menghampiri mereka berdua, “Rudi, kamu istirahat makan siang kok enggak bilang saya? Saya sebenarnya juga mau nitip belikan sesuatu.”

“Oh, maaf pak, ya tidak apa-apa pak saya keluar lagi dan belikan.” jawab rudi disertai senyuman yang ramah.

“Beneran tidak apa-apa rud?” tanya sang manager memastikan.

“Iya pak, tidak apa-apa, mumpung kerjaan saya juga kebetulan sudah hampir selesai.” jawab Rudi.

Begitulah, saat muncul rasa malas yang tidak beralasan. Saat sebenarnya kalian termasuk anda bisa mengerjakan kewajiban anda namun anda merasa terlalu penting dalam sebuah posisi organisasi dan ada para kacung-kacung yang bisa anda korbankan. Selalu ada orang seperti Rudi, yang bersedia membantu tanpa mengeluh.

Banyak orang yang menganggap Rudi sebagai orang bodoh yang cuma dimanfaatkan oleh orang-orang malas. Namun pada akhirnya orang seperti Rudi memang tidak bisa menolak saat dimintai tolong, setidaknya selama dia masih bisa menolong. Dan Rudi tau, disamping dia cuma sebagai anak baru meskipun list pekerjaan yang harus dia kerjakan sama sekali tidak ada hal-hal seperti membantu seniornya untuk ini-itu. Tapi, asal berbuat baik, pasti balasan untuk kita juga baik.

Seperti siang ini…

Tepat saat Rudi akan keluar lagi untuk membeli titipan managernya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh disusul dengan teriakan histeris orang-orang. Kantor Rudi yang berada tepat di pinggir jalan protokol kota seketika ikut panik melihat orang-orang tiba-tiba berlarian.

Terdengar teriakan yang sangat kencang disusul mobil yang terlempar di udara. Pemandangan mengerikan pun terjadi, sebuah makhluk raksasa tampak mengamuk di jalan protokol tersebut dan memporak-porandakan lingkungan sekitar seperti mobil, bangunan, papan jalan, fasilitas umum. Orang-orang kebingungan dan saling berhamburan, mereka selalu mengira ini adalah hari biasa dan kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan mereka.

Begitu pula dengan Rudi, ibu senior, manager kantor, serta seluruh staff kantor tempat Rudi bekerja. Mereka berhamburan keluar kantor untuk melihat apa yang terjadi, dan seketika mereka panik tidak karuan akan  kejadian tidak masuk akal yang mampu membahayakan nyawa mereka.

“Lari!” seru manager memerintahkan pegawai-pegawainya untuk menyelamatkan diri.

Beberapa pegawai segera berlari menyelamatkan diri, beberapa yang bodoh malah mengeluarkan device mereka untuk mengabadikan moment ini, dan diluar dugaan, Rudi malah menghapiri raksasa tersebut (yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari depan kantor Rudi) sembari mengeluarkan simbol lingkaran dari sakunya. Seketika cahaya keemasan menyinari tubuh Rudi, cahaya aneh yang turut serta mematikan alat-alat elektronik seperti mesin mobil, lampu sekitarnya. Lebih seperti semua energi saat itu terserap dan berbentuk menjadi… sebuah baju zirah yang berkilauan lengkap dengan jubah warna merah.

Sang monster raksasa menghentikan kemarahannya dan melihat ke kesatria berzirah. Tanpa banyak omong sang kesatria mengeluarkan sebuah senapan dari tangan kirinya dan menembak sang monster dengan tembakan berupa cahaya. Sang monster raksasa menjerit kesakitan saat tembakan tersebut menembus tubuhnya, saat beberapa detik kemudian sang kesatria sudah menghunus sebuah pedang yang bersinar terang dan secepat kilat menancapkannya ke jantung monster tersebut. Gerakan yang sangat cepat hingga terlihat seperti kilatan cahaya saja. Monster raksasa tersebut sudah ambruk ke tanah.

*****

Beberapa jam setelah kejadian tersebut, orang-orang masih bingung dengan apa yang terjadi. Tidak ada dokumentasi tentang serangan beserta penyelamatan sang kesatria tersebut dikarenakan dua hal: kerusakan kota bisa didokumentasikan tapi entah mengapa saat objek foto mengarah ke monster raksasa, gambar yang didapat hanyalah sebuah bayangan berwarna hitam. Kedua, saat sang kesatria muncul, semua bentuk “energi” di sekitarnya seakan “terserap” alhasil semua alat elektronik, mesin, listrik, bahkan arloji pun mati sesaat. Alhasil hanya orang-orang yang saat itu di sanalah yang menjadi saksi hidup dari penyelamatan singkat sang kesatria, sedangkan bekas kerusakan fisik yang ada dianggap “bencana aneh” serta “orang-orang yang mendadak terlalu berkhayal karena trauma” oleh khalayak yang tidak menyaksikan peristiwa tersebut.

Rudi tidak tampak lagi setelah kejadian tersebut, sang manager memulangkan seluruh pegawainya setelah insiden penyerangan monster raksasa dan tentu saja dia tidak bisa menemukan Rudi di antara pegawai yang saat itu berkumpul sejenak sebelum dipulangkan lebih awal. Sang manager masih tidak percaya pada fakta bahwa pegawai baru yang low-profile dan selalu menurut saat disuruh atau dimintai tolong selama ini adalah penyelamat jiwanya serta puluhan atau bahkan ratusan orang siang ini. Dia tau bahwa tidak akan ada orang yang percaya bahwa pegawai barunya adalah seorang kesatria dengan baju zirah bercahaya. Bahkan dia ragu kalau ada orang yang percaya bahwa siang ini ada raksasa yang mengamuk di jalan protokol depan kantor dan sempat menghancurkan lingkungan sekitar.

Saat si manager hendak membereskan ruangannya, dia tertegun memandangi bungkusan plastik yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dia segera melihat apa isi bungkusan plastik tersebut yang seingatnya tidak ada di atas mejanya sebelum tragedi penyerangan berlangsung, dan ternyata isi bungkusan tersebut adalah…

Minuman ringan dan sekotak merek rokok favorit si manager yang siang tadi dia minta tolong Rudi untuk membelikannya.

Saya hanya ingin mendongeng sekaligus sedikit curcol tentang asam-manis kehidupan kantor, hendikgila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: