Warung Dan Rasa Empati

Akhir pekan itu saya sedang pulang ke rumah, saat itu hari sudah menjelang petang dan anggota keluarga kecil saya sedang berleha-leha menikmati waktu yang santai. Sampai ketika ibu saya menghampiri saya yang sedang asyik baca buku sambil tidur-tiduran di sofa ruang keluarga.

“Mama mau ke warung sebelah nih, kamu enggak titip apa-apa?” tanya ibu saya.

“Wah, emang mau beli apa mak?” sahutku.

“Mau membeli beberapa kebutuhan rumah, sekaligus mau beli pulsa.” jawab si emak.

“Waduh, enakan beli pulsa lewat ATM atau net-banking mak, nggak dipotong biaya-biaya lain…” komentarku sembari sedikit berpikir kalau ibu saya masih belum tau cara praktis untuk beli pulsa.

“Ditambah lagi pulsanya cepet masuk, kalau beli di warung atau konter pulsa gitu kan sering pending atau dimahalin beberapa ribu rupiah.” tambahku lagi.

Dengan santai ibu saya hanya merespon, “Ya, tapi kan kalau bukan kita-kita yang beli dan ngebantu usaha tetangga kita yang udah berusaha cari uang secara halal, terus siapa lagi, ndul?*”

Saya hanya termenung tidak menjawab pertanyaan ibu saya barusan, sampai akhirnya hanya terdengar suara ibu menutup pintu depan rumah dan berjalan ke warung.

Saat saya mengira empati sudah hilang dari penduduk-penduduk negara ini, saya sendiri malam ini malah menunjukan sikap kurang berempati pada circle terdekat sekitar kita, yaitu tetangga rumah.

Ibuku, terima kasih untuk selalu mengingatkan bagaimana agar tidak lupa menjadi manusia.

*ndul adalah panggilan sayang ibu ke saya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: