Sopir Bus Berkacamata

Sebagai perantau level cupu, alias merantaunya cuma beberapa jam perjalanan dari kota asal. Saya sangat sering menggunakan moda transportasi berupa bus AKDP (antar kota dalam provinsi). Tempat ideal duduk untuk manusia berkaki panjang seperti saya adalah belakang bangku sopir, karena ruang buat kaki pastinya lebih luas dibanding kalau duduk di deretan tengah bus hehehe.Namun posisi ini sudah jarang saya tempati ketika naik bus, dikarenakan kuota penumpang dari terminal Bungurasih – Surabaya menuju Bojonegoro tidak imbang dengan armada bis yang nge-tem maka penumpang bus selalu overload di jam-jam produktif untuk pulang, contohnya saat sore menuju malam.

Suatu waktu yang cukup larut untuk pulang. Bus cukup sepi sehingga saya mendapat kesempatan untuk duduk di spot idaman, yaitu bangku penumpang depan sendiri tepat di belakang bangku sopir. Bus kali ini agak berbeda, karena baik sopir dan kenek bus masih usia muda secara penampilan fisik. Pak sopir nampak seperti bapak-bapak muda usia 26 tahun berkacamata, cukup nyentrik karena saya sangat jarang bertemu sopir bus AKDP yang memakai kacamata lensa minus (banyaknya adalah sopir-sopir paruh baya yang memakai kacamata plus).

Yang lebih menarik lagi, sopir ini punya kebiasaan untuk menaikkan kacamatanya setiap beberapa saat, walaupun kacamata di wajahnya tidak melorot. Saya sempat sedikit panik ketika di saat yang tidak tepat seperti sedang menyalip kendaraan dan butuh tangan dua pada kemudi bus, dia masih sempat-sempatnya menaikkan kacamata di wajahnya dengan satu jari. Namun sepertinya dia bisa mengatasi semua dengan lancar. Perjalanan terasa smooth dan saya sampai tertidur pulas di bawah kendali bus pak sopir berkacamata.

Saat bus hampir sampai ke tempat tujuanpun pak sopir tetap melakukan habit-nya, menaikkan kacamata di wajah tiap beberapa waktu yang sebetulnya kacamatanya tidak sedang melorot. Yang pak sopir tersebut tidak tau, ada seorang cowok yang juga memakai kacamata duduk di belakangnya, mengawasi kebiasaan kecil si bapak sopir sambil tersenyum setiap kali memergoki sang sopir menaikkan kacamata.

Pasti merepotkan sekali kalau setiap waktu menaikkan kacamata seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: