Kesatria Cilik, Episode: Mencari Senjata

“Ndik, mana senjatamu?” Tanya Imam.

“Pedangku patah di pertempuran melawan raja Kepiting, kamu ingat, kan?” Jawabku.

“Ya sudah, kamu tetap di belakangku, sementara aku akan melindungimu dahulu.” Lanjut Imam. Aku mengangguk setuju.

Kami berdua akhirnya tiba di sebuah pohon ceri tua raksasa yang menjorok ke sebuah sungai besar yang berisi banyak kepiting raksasa di dalamnya, kepiting-kepiting raksasa tersebut dengan kompak berhenti berkeliling dasar sungai dan mendongak ke permukaan, melihat kami dengan tatapan mengancam. Aku paling takut dengan yang namanya kepiting, tapi Imam tidak tau. Aku berusaha sok berani.

“Siap?” Tanya Imam.

“Eh… Entahlah, kenapa kita tidak mencari jagung emas di ladang iblis saja hari ini?” Jawabku, tidak yakin.

“Alah, tenang. Aku sudah puluhan tahun mendaki ceri raksasa ini untuk mengambil buahnya yang super manis dan konon katanya bisa memperpanjang umur kita!” Kata Imam meyakinkanku.

“Dan juga, aku sering menjumpai mineral-mineral yang cocok untuk dijadikan pedang sakti. Inilah saat yang tepat untuk menguji mineral tersebut!” Lanjutnya.

“Baiklah kalau begitu, ingat, aku tidak bersenjata. Tolong lindungi diriku!” Akhirnya aku menurut apa kata Imam.

Ah, Imam. Dia jauh lebih muda dariku, namun keberaniannya berlipat-lipat kali lebih besar dariku. Namun aku dengan pikiran yang rasional dan penuh perhitungan sering menyelamatkannya dari keputusan-keputusan bodoh yang justru akan membahayakan nyawanya. Karena itulah kami dilahirkan serasi, sama-sama suka berpetualang dengan kelebihan dan kekurangan kami masing-masing. Aku dan Imam mulai memanjati dahan-dahan tua pohon ceri tersebut. Imam sudah puluhan bahkan ratusan kali memanjat pohon raksasa seperti ini, bahkan pada beberapa petualangan kami, dia sampai berani memanjat melebihi awan yang mana aku hanya bisa melihatnya dari puncak tertinggi pohon raksasa yang bisa aku jangkau. Pohon raksasa ini bukan pohon favorit kami untuk sekedar berlatih ketangkasan ataupun bersantai setelah petualangan yang penat. Namun aku pernah mencoba buah ceri ajaibnya, merah dan manis! Dambaan setiap kesatria di negeri ini karena bisa memulihkan stamina dan konon katanya menambah umur!

“Stop!” Kata Imam mendadak sembari menghalangiku dengan tangannya.

Aku melihat apa yang dimaksud Imam, Seekor ulat raksasa dengan bulu setajam jarum tampak merambat mendekati kami dengan galak. Bila terkena bulu jarum ini, tidak hanya menyakitkan seperti tertusuk, namun juga menimbulkan racun yang membuat kulit kita bengkak dan merah, sangat berbahaya!

Imam segera menghunus pedangnya, dengan gagah berani dia melayangkan beberapa tebasan ke arah makhluk tersebut. Akhirnya ulat berbulu jarum tersebut mati dengan beberapa luka sayatan serta darah berwarna hijau bening membasahi dahan besar tersebut. Andai saja aku punya senjata, pasti aku akan ikut berpesta membantai makhluk yang menghalangi kami tersebut!

Kami berdua melanjutkan perjalanan menaiki pohon raksasa tersebut.

“Bukan makhluk tadi yang sebenarnya aku takutkan,,,” Kata Imam.

Aku mengamati sekitar, daun mulai rimbun dan gelap. Dahan-dahan mulai dihiasi cairan lengket berwarna emas. Aku pun merasakan udara yang kami hirup mulai berubah suasananya.

“Laba-laba sutra emas, dia hidup di sini?” Tanyaku ke Imam.

“Iya benar,” Jawab Imam.

“Sebisa mungkin kita menghindar saja, terlalu berbahaya.” Lanjutnya lagi.

Akupun mengangguk setuju dan kami berjalan lagi.

Diriku bisa paham kenapa Imam begitu takut dengan laba-laba sutra emas ini. Dahulu kami pernah sekali berhadapan dengan makhluk ini saat kami berdua berpetualang di sebuah pohon buah baling-baling besar yang lebarnya dua kali dari pohon ceri raksasa yang sekarang kami panjat. Kami berdua terlibat pertarungan seru dengan laba-laba sutra emas yang memang biasa hidup dan bersarang di pohon-pohon raksasa. Kami, yang saat itu bermaksud mencuri gulungan sutra emas yang konon bisa menjadi tali yang sangat kuat serta perekat untuk jebakan yan telah kami rencanakan merasakan amukan dari laba-laba emas yang sarangnya kami usik. Imam terkena gigitan mematikan pada punggungnya, dan untung kami berhasil melarikan diri. Gigitan mematikan yang sangat beracun membuat Imam berteriak kesakitan selama berjam-jam sebelum akhirnya mendapat pertolongan dari nenek tua sakti berkacamata yang memiliki toko obat-obatan sihir. Sejak saat itulah akhirnya Imam jadi berhati-hati bila berurusan dengan laba-laba sutra emas.

Sebenarnya ada kesatria temanku bernama Rendra yang pernah mengalahkan laba-laba sutra emas ini, bahkan menyedot habis semua sutra emas dari dalam tubuhnya dalam petualangan kami, namun mungkin ini akan jadi cerita di lain waktu!

Kami telah berada di dahan yang penuh ceri ajaib bergelantungan, kami segera memakan ceri ajaib tersebut dengan suka cita, serta tidak lupa memetik beberapa dan kami masukkan ke tas kantong petualangan kami. Sampai sekarang aku tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya ceri ajaib yang ranum dan berwarna merah tersebut!

Di sebuah dahan yang letaknya cukup tinggi serta dipenuhi sutra emas. Imam menunjuk, “Lihat, itulah mineral yang aku maksud.”

Terlihatlah dahan ajaib yang mengelupas dan di dalamnya terdapat besi hitam yang terlihat sangat kuat.

“Ayo kita ambil!” Seru Imam.

Namun langkah kami terhenti. Tidak jauh dari mineral tersebut telah berdiri laba-laba sutra emas yang sedang membungkus seorang peri yang sudah mati terkena jebakan beserta racunnya dengan sutra emas yang keluar dari ekor laba-laba tersebut.

“Bisa gawat nih!” Bisikku ke Imam.

“Sudah, nekat saja, langsung kabur kalau dapat mineralnya!” Jawab Imam.

Imam menghunus pedangnya dengan bergetar. Diriku merangkak maju dan perlahan mencabuti sela-sela kulit pohon tua yang mengelupas sebelum akhirnya kucabut mineral tersebut dengan mudah. Beberapa pohon raksasa memang ajaib, dahan tertentu mereka bisa mengelupas dan menjadi mineral yang kuat untuk bahan pedang, tombak, maupun senjata lainnya yang lazim digunakan oleh kesatria. Mendadak makhluk itu menggeram dan berhenti membungkus mayat peri. Kamu berdua sudah dag dig dug bersiap untuk mengambil langkah seribu, takut berurusan dengan laba-laba berbahaya ini. Namun setelah beberapa lama laba-laba tersebut kembali asyik membungkus mangsanya sehingga aku bisa menyelesaikan mengambil mineral tersebut dan memasukkannya ke kantong petualangan. Dengan berhati-hati kami meninggalkan tempat terkutuk tersebut lalu secepat kilat menuruni pohon ceri tua raksasa ini dengan perasaan riang gembira.

Sesampainya di tanah kami berdua sangat lega.

“Mau ditempa di mana nih enaknya?” Tanyaku?

“Pusat Kesehatan Goblin?” Usul Imam.

Ini adalah tempat di mana goblin biasa berkumpul untuk berobat, namun saat matahari tepat berada di atas kepala tempat ini selalu kosong. Biasa digunakan oleh kesatria untuk mencari bahan-bahan petualangan atau sekedar tempat sunyi untuk beristirahat.

“Baiklah, sambil memakan ceri hasil petikan kita. Sepertinya punyamu lebih merah, boleh aku minta beberapa he hehe?” Jawabku.

“Ah kamu ini, selalu. Ya sudah ayo, sebelum matahari terbenam.” Jawab Imam.

Kami masih harus melewati jalan berbatu terjal sebelum sampai di Pusat Kesehatan Goblin. Petualangan hari ini cukup mengasyikkan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: