Bola Karet

Kutatap gadis yang sedang duduk menyelonjorkan kaki sembari minum air mineral kemasan botol di depanku.

“Udahan ya?” kataku.

“Tapi, besok udah tampil nih…” jawabnya sembari menjauhkan bibir botol dari bibirnya sendiri, “…masih sering jatuh.” lanjutnya.

Aku berdiri menghampirinya, “Nggak apa-apa, kamu udah bagus kok.” kataku sembari kupungut bola karet yang tergeletak di lantai.

Kulihat keringat yang membasahi sweater latihan warna abu-abu yang dikenakan gadis ini, serta sorot matanya yang lelah namun menyimpan rasa penasaran untuk menyempurnakan latihannya. Lalu pandanganku beralih ke bola karet berwarna merah yang dipakainya untuk latihan. Beberapa hari yang lalu aku bertanya kenapa dia memilih bola dari instrumen rhythmic gymnastic yang lain seperti tali, pita, hula hoop, atau bahkan tanpa instrumen yang kurasa bakal lebih mudah.

“Lihat video di internet, keren, aku jadi pengen coba, hehehe…” alasan yang benar-benar tidak mendasar, tapi aku percaya saja padanya, dia memang jago menari dan suka tantangan baru. Dan melakukan hal-hal yang tidak mendasar adalah… dia banget.

“Ehmmm,” aku berdehem, dia langsung menoleh ke arahku, “sebenarnya… kamu nggak perlu terlalu niat untuk menang sih, besok…” sialan, tanpa kusadari aku sedang salah ngomong.

Terbukti, dia langsung cemberut memandangku.

“Tapi…” aku berhenti sejenak, secepat kilat aku harus memikirkan kalimat untuk memperbaiki ini.

Dia menunggu sambil  masih cemberut.

Padahal sebenarnya dia kalau cemberut lucu, hehehe. Tapi  jangan buat dia kecewa oleh perkataanmu.

“…yang besok menari pakai bola cuma kamu, itu sebuah nilai plus. Yang sebenarnya pengen kukatakan adalah, bila besok penampilanmu tidak perfect, jangan berkecil hati, pakai bola tuh beneran sulit deh, cuma nonton kamu latihan saja aku jadi bisa merasakan.” lanjutku nyengir.

Yes! perkataanku ini cukup baik.

Dia manggut-manggut dengan ekspresi menyebalkan, seolah berkata “bisa saja ngelesnya”. Kemudian dia menutup botol minumnya, setelah itu dia berdiri.

“Ya sudah, ayo pulang kalau begitu.” katanya, sembari berjalan menuju tasnya yang tergeletak di sudut ruang latihan senam.

Kuncir buntut kudanya malam ini sempurna, aku baru sadar saat kulihat rambutnya dari belakang.

“Hey!” seruku tiba-tiba.

Dia menoleh, kulambungkan bola karet ke udara. Secara refleks dia menangkapnya dengan tangan kiri ketika tangan kanannya masih menggenggam botol minum.

“Tuh, sudah jago.” godaku.

Dia nyengir.

Kuantarkan dia pulang naik motorku, seperti yang kulakukan beberapa hari ini. Ini entah bentuk modus yang ke-puluhan sekian kalau bisa kuhitung, dariku untuk gadis cantik ini. Mungkin dia mulai curiga, mungkin dia  sudah sadar sejak lama, atau mungkin dia sama sekali tidak peduli. Persetan, aku tidak peduli, yang penting malam ini aku memboncengnya, belum bonceng mepet sih, tapi aku bahagia.

**********

Dirinya menghela-hela nafas dengan grogi. Sudah hampir sepuluh kali kata “Jangan grogi, kamu pasti bisa” kukatakan padanya hari ini, dan dia selalu tersenyum mendengarnya, kuharap sedikit groginya bisa reda meskipun itu terdengar konyol. 

Aku berusaha selalu menemaninya sampai dia tampil, dan anehnya dia tidak merasa terganggu selalu berdua denganku belakangan ini. Apakah ini sebuah isyarat lampu hijau ke hatinya? Kepalaku membesar karena ge-er hehehe.

Kami berdua terkejut, namanya tiba-tiba dipanggil oleh panitia via pengeras suara, disertai teriakan riuh penonton yang menantikan penampilan gadis ini. Mendadak aku jadi ikutan cemas, namun aku percaya dia akan membuat juri dan penonton terpana. Aku termasuk manusia terpilih yang menemani dan menyaksikan proses latihannya. Penuh keringat serta kegagalan kecil, kuharap semua usaha berat tersebut akan berbuah hasil.

“Duhhh, namaku dipanggil.” Dia segera mempersiapkan diri berjalan menuju area senam tari, memecah lamunan dan rasa cemasku.

Kupandangi sosok yang perlahan berjalan di depanku. Hari ini dia tampil memakai dress balet lengan panjang warna hitam dengan hiasan bentuk berlian yang kelap-kelip di bagian depan, dengan lipstik merah senada dengan warna bola karet yang akan digunakannya untuk lomba rhythmic gymnastics ini. Apapun penampilannya, tak akan bosan aku memujinya dalam hati kalau dia sangat cantik… sangat cantik.

“Aku berangkat, doain ya.” katanya pamit sembari berjalan perlahan menuju pintu yang mengantarnya ke suara riuh penonton.

“Hey!” aku setengah berteriak memanggilnya, dia tidak berhenti.

“Baru sadar kalau kamu tambah cantik kalau sedang panik.” lanjutku.

Dia menoleh sambil menyengir lebar memperlihatkan giginya yang kecil-kecil dan rapi, lalu dia mengacungkan jempolnya kepadaku. Hatiku sedikit melayang, namun aku berusaha sok cool.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: