Para Lelaki Pemalu Yang Menyeramkan

Sebuah sajak, anggap saja begitu…

*****

Zaman sosial media memang sangat berbeda.

Bila dahulu kami, para lelaki pemalu harus berbisik-bisik dan bertukar informasi untuk mengetahui sebuah nama.

Harus mematahkan tulang belakang untuk sekadar mencari kesempatan buat bertegur sapa.

Ah, lupakan, kalian tidak akan menyapa kami kembali meskipun tulang belakang kami patah.

Kami yang selalu mengamati kalian dari jauh, namun tak sedetikpun berani saling bertatap mata.

Tidak lagi.

Kami tidak perlu lagi berbisik, atau mengulik, karena semua sudah dengan bodohnya kalian pamerkan.

Nama kalian, kapan hari ulang tahun kalian, makanan kesukaan, warna favorit.

Bahkan mungkin kami akan bisa mengetahui hal-hal yang lebih pribadi seperti di mana kalian tinggal, kontak pribadi kalian. Hehehe, sungguh fasilitas yang mewah sekali bisa mengetahui semua hal pribadi tersebut.

Kalian dengan sendirinya kini memberikan seluruh parasnya untuk bisa kami nikmati.

Kami bisa menatap mata kalian selama yang kami mau, karena mata dan wajah kalian mudah sekali ditemukan di manapun.

Yang lebih menyenangkan lagi, kami bisa langsung menegur sapa lewat kolom komentar tanpa harus kalian mengenal kami.

Kalian membalas tegur sapa tersebut dan menyebut nama kami, dan kami sangatlah senang. Tentunya tanpa ada tulang belakang yang patah.

Padahal iya, kami hanyalah lelaki pemalu.

Tapi dengan segala fasilitas yang kalian berikan, Kami bisa merasa menjadi orang yang dekat dengan kalian, tau apa yang kalian lakukan beserta kebiasaan kalian sehari-hari, kami bisa berucap atau memberi apapun yang kami mau ke kalian.

Kami tidak harus mengenal dan memiliki kalian, tapi kami bisa mengurung kalian di dalam pikiran kami. Menjadikan kalian sebagai fantasi apapun yang kami mau.

Bahkan, sekarang juga kami bisa mengurung foto-foto kalian dan memilikinya untuk disimpan ke data pribadi kami masing-masing.

Kalian yang memberikan semua secara cuma-cuma, kami pikir kalian pasti tidak akan marah jika kami mengambilnya.

Teruslah beri kami sesuatu tentang kalian.

Kami butuh itu.

Dan didasari satu hal bodoh bernama kebebasan.

Kalian tidak akan merasa keberatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: