Opini Tembakau

Saat saya duduk di tempat umum, saya mengamati seorang lelaki yang masih muda, mungkin umurnya baru 20-an, dengan santai menghisap sebatang rokok sembari bermain handphone. Yang unik dia tidak segera menghembuskan asap rokok dalam paru-parunya, namun terlihat meresapinya sejenak selama beberapa detik sebelum asap putih tersebut menghembus dari mulutnya. Saya perhatikan lagi sekeliling saya, dua-tiga-empat orang lain juga merokok. Wajar saja di kota kecil seperti ini konsumsi rokok malah besar, kenapa saya anggap wajar?

Tumbuh besar di kota yang hitungannya tidak terlalu maju dengan banyaknya kecamatan serta desa sebenarnya bukan merupakan hal yang buruk. Banyak hal yang bisa dilakukan serta space aktivitas di kota kecil yang tentu saja lebih lapang dibandingkan kepenatan kota sekelas metropolis mewarnai masa kecil hingga remaja saya. Memasuki usia puber, ada satu yang saya amati di lingkungan remaja-remaja seusia saya di kota kecil ini, dan saya yakin juga terjadi di kota-kota kecil yang lain di Indonesia.

Menjadi keren dan dapat pengakuan di kota kecil dengan usia segini listnya sebagai berikut: merokok dan berani mabuk, jago berkelahi dan bikin ribut, punya motor bagus dan boncengin cewek memakai motor tersebut.

Poin pertama adalah poin yang cukup saya sesalkan kenapa budaya tersebut harus dilalui banyak remaja-remaja puber terutama di kota kecil. Saya masih ingat ketika saya seumuran SMP dan teman-teman komplek saya mendadak berkumpul di sudut komplek yang sepi di malam hari untuk apa? Ya merokok berjamaah secara diam-diam.

“Jajal to, wes gede kok” alias “cobain lah, udah dewasa” dalam bahasa jawa menjadi kata pemungkas para remaja yang usianya lebih tua untuk menyodorkan pack rokok mereka ke remaja-remaja yang masih ingusan. Dan ya, saya menyaksikan teman-teman sebaya saya akhirnya menghisap batang-batang tembakau tembakau secara sembunyi dan berjejer-jejer seperti keledai tanpa ada alasan yang spesifik kenapa mereka harus melakukan hal tersebut.

Seriously, coba ingat lagi apa alasan kalian coba merokok pada usia dini? (Untuk kalian yang merokok sejak usia dini).

Darah remaja saya cukup bergejolak, bukan dengan alasan konyol seperti orang tua yang akan marah mengetahui anaknya merokok, kesehatan, dan lain-lain, jauh di atas semua itu saya cuma punya dasar kuat untuk tidak menyentuh rokok: “Saya ingin berbeda dengan kalian, dan juga saya tidak butuh merokok.”

Ngomong-ngomong masalah orang tua, sejalan dengan bertambah usia saya mendapati pada akhirnya teman-teman saya yang merokok secara sembunyi-sembunyi di kemudian hari mendapat lampu hijau untuk merokok, tebak alasan mayoritasnya kenapa? Ya, orang tua mereka juga seorang perokok, menggelikan.

Usia remaja yang terus merambat menuju klimaks serta kelabilan-kelabilan usia segini mempertemukan saya dengan skena musik serta budaya “Straight Edge” yang mana para orang tersebut mempunyai attitude dengan tiga pantangan: tidak merokok, tidak alkohol, tidak sex bebas. “Wah ini kok saya banget!” Ujar saya kala itu, dan seketika saya jadi segelintir self-proclaim kaum straight edge yang susah dijumpai di lingkungan kota kecil ini. Bbahkan saya masih punya kaos bertuliskan lantang, “I AM STRAIGHT EDGE” yang sekarang saya jarang kenakan, kenang-kenangan masa labil di mana label itu penting untuk aktualisasi diri. Quote andalan saya yang saya kutip dari idola masa remaja saya @jdmln:

friks quest.jpg

“Rokoknya, mas”, “Lho kok nggak ngerokok?” dan berbagai template yang saya dengar sampai bosan ketika saya hidup bermasyarakat dan membaur dengan remaja-remaja kota kecil ini. Bahkan di lingkungan nongkrong saya mendapati ada sebuah attitude yaitu menaruh pack rokoknya di atas meja saat nongkrong ramai-ramai terutama bersama teman atau orang yang baru dikenal, tujuannya agar saling share dan bisa langsung minta dan ambil gak perlu merogoh saku untuk mengambil pack rokok bila ada yang minta sebatang. Sampai sekarang saya tertawa dalam hati menjumpai attitude tersebut, ingin saya membalas tatapan heran bila saya langsung saja duduk dan tidak mengeluarkan bungkus rokok dari saku ketika nongkrong dengan kalimat “What are u waiting for? I am not hiding anything on my pocket.”

Perlahan keistimewaan menjadi orang yang tidak merokok memudar ketika saya melewati proses urbanisasi untuk menempuh pendidikan di kota yang lebih besar. Meskipun perokok tetaplah mayoritas, setidaknya saya mendapati banyak orang-orang sekitar saya yang berpikir bahwa kecanduan tembakau bukanlah pilihan yang tepat. Dan yang paling penting membuka mata saya lebar-lebar: “TIDAK MEROKOK itu TIDAK ISTIMEWA.”

Semakin banyak umur yang saya tempuh dalam hidup ini, semakin banyak saya bertemu orang-orang baru. Merokok atau tidak, mereka semua punya alasan pribadi masing-masing kenapa mereka melakukannya. Sebaga sarana Relaksasi dan pengurang depresi menjadi mayoritas utama alasan mereka saat saya tanya (dan ini sebenernya kurang sopan) kenapa mereka merokok. Rokok menjadi teman mereka di saat-saat sulit, rokok selalu ada saat mereka menciptakan gagasan-gagasan penting dalam hidup mereka. Saya tidak bisa mencela kalau mereka merokok untuk relaksasi dan tidak melakukan hal yang lain dan sangat memaklumi tersebut mengingat di masa-masa stress yang berat saya melakukan metode relaksasi yang saya pikir lebih absurd dari merokok yaitu masturbasi. Anxiety memang sangat kejam dan jadi salah satu musuh utama yang harus dikalahkan dalam hidup ini.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dengan tidak merokok, keuanganmu akan jadi lebih stabil dibandingkan mereka yang aktif merokok, meskipun mungkin dirimu akan menjadi orang yang tajir melintir dan bisa menghabiskan seratus batang rokok sehari tanpa jadi kere, jauh di dalam hatimu saya yakin kamu akan bergumam jika merokok itu menguras duit. Bagaimana dengan faktor lain seperti kesehatan? Kalau pendapat pribadi saya itu bullshit jika membandingkan kesehatan sebagai faktor kamu lebih baik dibanding para perokok. Jangka panjang, mungkin, tapi untuk saat ini saya cukup sebal jika ada kampanye berhenti merokok dengan alasan kesehatan. Semua orang mati dengan resiko yang tidak bisa diketahui, tidak merokok akan berusia lebih panjang memang merupakan salah satu variabel, tapi tetap saja penyakit dan kematian buat saya merupakan twist terbesar umat manusia mengalahkan variabel-variabel tersebut.

Di usia seperempat abad ini, saya banyak bertemu dengan teman-teman masa remaja dahulu yang tetap masih merokok sampai sekarang. Berawal dari alasan yang tidak jelas untuk mulai merokok, kebanyakan dari mereka kini mengeluh untuk coba mengurangi atau bahkan berhenti merokok dan membandingkan kembali “enak rasanya” jadi saya yang memang dari awal tidak merokok. Saya tidak bisa menertawakan mereka, dan kebanyakan yang saya lakukan adalah memberi mereka motivasi bila memang mereka mau berhenti.

Hidup besar dikelilingi mayoritas orang yang merokok membuatmu lebih toleran terhadap asap rokok meskipun kamu tidak merokok. Tembakau itu salah satu bentuk candu, manusia suka candu tidak terkecuali saya meskipun dalam bentuk candu-candu yang lain. Hidup menjadi lebih dewasa setiap harinya membuat pikiran terbuka bahwa kaum perokok dan tidak bukanlah suatu perbedaan yang harus diributkan, dan juga sadar bahwa konsumsi tembakau dunia bakal tetap tinggi mengingat circle budaya masa remaja yang saya lalui tentang rokok mungkin juga terjadi di generasi yang lebih muda dan terus berulang, terus berulang. Pada akhirnya saya cuma bisa mengamati orang yang menghembuskan asap rokok, tetap heran di mana letak kesenangan melakukan hal tersebut namun sadar pertanyaan itu konyol karena diri sendiri tidak mencobanya untuk mencari tahu dan akhirnya sadar bahwa dirimu hanyalah pecundang yang sebenarnya takut menjadi seperti mereka, lebih baik diam.

Sembari sesekali menahan letupan rasa gemas ketika menjumpai orang-orang yang mendewakan tembakau. Berbagai hal saya lalui hingga ke titik saya tidak merokok dan bersikap biasa saja, kenapa kamu yang merokok dan mungkin mengalami hal yang lebih banyak dibanding saya dalam hidupmu tidak bisa bersikap biasa saja juga?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: