Pause

Hampir tengah malam ketika sang perempuan berhenti menyenderkan tangan di bahu sang pria yang menjadi kekasihnya. Dua pasang mata yang saling memadu kasih tersebut memandang objek yang sama, namun bukanlah kedua bola mata mereka yang saling berpandangan, namun sebuah layar kotak dengan jutaan pixel warna yang menghiasinya.

Dua cangkir kopi yang kopinya tinggal sedikit menghiasi meja di depan pasangan tersebut, tepat di sebelah cangkir-cangkir tersebut, jemari yang bergerak sangat cepat menekan berbagai tombol secara tidak beraturan terus bergerak tanpa kenal lelah.

Perempuan tersebut beranjak dari memandang layar ke wajah pasangannya. Kehadirannya nyaris sama sekali tidak berarti untuk kekasihnya. Semua konsentrasi si pria dikerahkan sepenuhnya ke jemari dan mata untuk menatap layar sembari memencet tombol di depannya.

Namun satu yang diyakini si perempuan setelah semua sikap acuh yang dia terima dari pasangannya semenjak beberapa puluh menit terakhir, lebih baik bersaing perhatian dengan permainan video ketimbang harus bersaing perhatian dengan perempuan lain.

“Maaf lama, tadi seru sekali.” Ujar sang pria tiba-tiba, membuyarkan kekosongan si perempuan.

“Iya aku tahu, kamu sampai memekik beberapa kali,” jawab si perempuan sambil tersenyum, “kamu seperti anak kecil kegirangan.”

“Hehe, maaf sampe nyuekin pacar sendiri. Kamu lapar? Pesen makan yuk?” Lanjut sang pria sembari membelai rambut kekasihnya.

Sang perempuan mengangguk tanda setuju dan menyenderkan kepalanya lebih dalam ke bahu sang pria sembari menikmati belaian tangan di rambutnya.

Advertisements

Opini Tembakau

Saat saya duduk di tempat umum, saya mengamati seorang lelaki yang masih muda, mungkin umurnya baru 20-an, dengan santai menghisap sebatang rokok sembari bermain handphone. Yang unik dia tidak segera menghembuskan asap rokok dalam paru-parunya, namun terlihat meresapinya sejenak selama beberapa detik sebelum asap putih tersebut menghembus dari mulutnya. Saya perhatikan lagi sekeliling saya, dua-tiga-empat orang lain juga merokok. Wajar saja di kota kecil seperti ini konsumsi rokok malah besar, kenapa saya anggap wajar?

Tumbuh besar di kota yang hitungannya tidak terlalu maju dengan banyaknya kecamatan serta desa sebenarnya bukan merupakan hal yang buruk. Banyak hal yang bisa dilakukan serta space aktivitas di kota kecil yang tentu saja lebih lapang dibandingkan kepenatan kota sekelas metropolis mewarnai masa kecil hingga remaja saya. Memasuki usia puber, ada satu yang saya amati di lingkungan remaja-remaja seusia saya di kota kecil ini, dan saya yakin juga terjadi di kota-kota kecil yang lain di Indonesia.

Menjadi keren dan dapat pengakuan di kota kecil dengan usia segini listnya sebagai berikut: merokok dan berani mabuk, jago berkelahi dan bikin ribut, punya motor bagus dan boncengin cewek memakai motor tersebut.

Poin pertama adalah poin yang cukup saya sesalkan kenapa budaya tersebut harus dilalui banyak remaja-remaja puber terutama di kota kecil. Saya masih ingat ketika saya seumuran SMP dan teman-teman komplek saya mendadak berkumpul di sudut komplek yang sepi di malam hari untuk apa? Ya merokok berjamaah secara diam-diam.

“Jajal to, wes gede kok” alias “cobain lah, udah dewasa” dalam bahasa jawa menjadi kata pemungkas para remaja yang usianya lebih tua untuk menyodorkan pack rokok mereka ke remaja-remaja yang masih ingusan. Dan ya, saya menyaksikan teman-teman sebaya saya akhirnya menghisap batang-batang tembakau tembakau secara sembunyi dan berjejer-jejer seperti keledai tanpa ada alasan yang spesifik kenapa mereka harus melakukan hal tersebut.

Seriously, coba ingat lagi apa alasan kalian coba merokok pada usia dini? (Untuk kalian yang merokok sejak usia dini).

Darah remaja saya cukup bergejolak, bukan dengan alasan konyol seperti orang tua yang akan marah mengetahui anaknya merokok, kesehatan, dan lain-lain, jauh di atas semua itu saya cuma punya dasar kuat untuk tidak menyentuh rokok: “Saya ingin berbeda dengan kalian, dan juga saya tidak butuh merokok.”

Ngomong-ngomong masalah orang tua, sejalan dengan bertambah usia saya mendapati pada akhirnya teman-teman saya yang merokok secara sembunyi-sembunyi di kemudian hari mendapat lampu hijau untuk merokok, tebak alasan mayoritasnya kenapa? Ya, orang tua mereka juga seorang perokok, menggelikan.

Usia remaja yang terus merambat menuju klimaks serta kelabilan-kelabilan usia segini mempertemukan saya dengan skena musik serta budaya “Straight Edge” yang mana para orang tersebut mempunyai attitude dengan tiga pantangan: tidak merokok, tidak alkohol, tidak sex bebas. “Wah ini kok saya banget!” Ujar saya kala itu, dan seketika saya jadi segelintir self-proclaim kaum straight edge yang susah dijumpai di lingkungan kota kecil ini. Bbahkan saya masih punya kaos bertuliskan lantang, “I AM STRAIGHT EDGE” yang sekarang saya jarang kenakan, kenang-kenangan masa labil di mana label itu penting untuk aktualisasi diri. Quote andalan saya yang saya kutip dari idola masa remaja saya @jdmln:

friks quest.jpg

“Rokoknya, mas”, “Lho kok nggak ngerokok?” dan berbagai template yang saya dengar sampai bosan ketika saya hidup bermasyarakat dan membaur dengan remaja-remaja kota kecil ini. Bahkan di lingkungan nongkrong saya mendapati ada sebuah attitude yaitu menaruh pack rokoknya di atas meja saat nongkrong ramai-ramai terutama bersama teman atau orang yang baru dikenal, tujuannya agar saling share dan bisa langsung minta dan ambil gak perlu merogoh saku untuk mengambil pack rokok bila ada yang minta sebatang. Sampai sekarang saya tertawa dalam hati menjumpai attitude tersebut, ingin saya membalas tatapan heran bila saya langsung saja duduk dan tidak mengeluarkan bungkus rokok dari saku ketika nongkrong dengan kalimat “What are u waiting for? I am not hiding anything on my pocket.”

Perlahan keistimewaan menjadi orang yang tidak merokok memudar ketika saya melewati proses urbanisasi untuk menempuh pendidikan di kota yang lebih besar. Meskipun perokok tetaplah mayoritas, setidaknya saya mendapati banyak orang-orang sekitar saya yang berpikir bahwa kecanduan tembakau bukanlah pilihan yang tepat. Dan yang paling penting membuka mata saya lebar-lebar: “TIDAK MEROKOK itu TIDAK ISTIMEWA.”

Semakin banyak umur yang saya tempuh dalam hidup ini, semakin banyak saya bertemu orang-orang baru. Merokok atau tidak, mereka semua punya alasan pribadi masing-masing kenapa mereka melakukannya. Sebaga sarana Relaksasi dan pengurang depresi menjadi mayoritas utama alasan mereka saat saya tanya (dan ini sebenernya kurang sopan) kenapa mereka merokok. Rokok menjadi teman mereka di saat-saat sulit, rokok selalu ada saat mereka menciptakan gagasan-gagasan penting dalam hidup mereka. Saya tidak bisa mencela kalau mereka merokok untuk relaksasi dan tidak melakukan hal yang lain dan sangat memaklumi tersebut mengingat di masa-masa stress yang berat saya melakukan metode relaksasi yang saya pikir lebih absurd dari merokok yaitu masturbasi. Anxiety memang sangat kejam dan jadi salah satu musuh utama yang harus dikalahkan dalam hidup ini.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dengan tidak merokok, keuanganmu akan jadi lebih stabil dibandingkan mereka yang aktif merokok, meskipun mungkin dirimu akan menjadi orang yang tajir melintir dan bisa menghabiskan seratus batang rokok sehari tanpa jadi kere, jauh di dalam hatimu saya yakin kamu akan bergumam jika merokok itu menguras duit. Bagaimana dengan faktor lain seperti kesehatan? Kalau pendapat pribadi saya itu bullshit jika membandingkan kesehatan sebagai faktor kamu lebih baik dibanding para perokok. Jangka panjang, mungkin, tapi untuk saat ini saya cukup sebal jika ada kampanye berhenti merokok dengan alasan kesehatan. Semua orang mati dengan resiko yang tidak bisa diketahui, tidak merokok akan berusia lebih panjang memang merupakan salah satu variabel, tapi tetap saja penyakit dan kematian buat saya merupakan twist terbesar umat manusia mengalahkan variabel-variabel tersebut.

Di usia seperempat abad ini, saya banyak bertemu dengan teman-teman masa remaja dahulu yang tetap masih merokok sampai sekarang. Berawal dari alasan yang tidak jelas untuk mulai merokok, kebanyakan dari mereka kini mengeluh untuk coba mengurangi atau bahkan berhenti merokok dan membandingkan kembali “enak rasanya” jadi saya yang memang dari awal tidak merokok. Saya tidak bisa menertawakan mereka, dan kebanyakan yang saya lakukan adalah memberi mereka motivasi bila memang mereka mau berhenti.

Hidup besar dikelilingi mayoritas orang yang merokok membuatmu lebih toleran terhadap asap rokok meskipun kamu tidak merokok. Tembakau itu salah satu bentuk candu, manusia suka candu tidak terkecuali saya meskipun dalam bentuk candu-candu yang lain. Hidup menjadi lebih dewasa setiap harinya membuat pikiran terbuka bahwa kaum perokok dan tidak bukanlah suatu perbedaan yang harus diributkan, dan juga sadar bahwa konsumsi tembakau dunia bakal tetap tinggi mengingat circle budaya masa remaja yang saya lalui tentang rokok mungkin juga terjadi di generasi yang lebih muda dan terus berulang, terus berulang. Pada akhirnya saya cuma bisa mengamati orang yang menghembuskan asap rokok, tetap heran di mana letak kesenangan melakukan hal tersebut namun sadar pertanyaan itu konyol karena diri sendiri tidak mencobanya untuk mencari tahu dan akhirnya sadar bahwa dirimu hanyalah pecundang yang sebenarnya takut menjadi seperti mereka, lebih baik diam.

Sembari sesekali menahan letupan rasa gemas ketika menjumpai orang-orang yang mendewakan tembakau. Berbagai hal saya lalui hingga ke titik saya tidak merokok dan bersikap biasa saja, kenapa kamu yang merokok dan mungkin mengalami hal yang lebih banyak dibanding saya dalam hidupmu tidak bisa bersikap biasa saja juga?

Membiarkan Orang Lain Bahagia Itu Sulit

Menyenangkan.

Itulah hal pertama yang didapatkan oleh si Piyik ketika dia menemukan sebuah kesenangan baru, yang tidak semua teman di sekitarnya bisa ikut merasakan kesenangan itu. Soul Reading, sebuah kegiatan di mana kita bisa seolah memasukkan jiwa kita ke dalam buku yang kita baca, membuat kita turut andil dalam tulisan yang kita baca sebagai salah satu tokohnya. Bukan hal yang baru lagi, namun untuk seseorang dengan daya imajinatif yang tinggi, turut andil dalam sebuah kisah adalah hal yang sangat menyenangkan.

Tentu saja Piyik sadar, tidak semua temannya memiliki daya imajinatif berlebihan seperti dirinya. Akhirnya ada satu hal yang dia bisa tonjolkan dibanding teman sepermainannya. Karena kalian tahu kenapa? Sudah alamiah kalau manusia selalu ingin menonjolkan sesuatu yang dia punya namun tidak dimiliki oleh orang lain.

Piyik mulai menikmati kegiatan soul reading. Dimulai dari kisah yang paling populer di kalangan penikmat soul reading saat ini, kisah bajak laut melawan marinir beserta makhluk lautan demi mencari harta karun paling berharga. Ribuan orang telah berpartisipasi di kisah ini, tak terkecuali si Piyik yang juga turut larut dalam dunia bajak laut beserta kegiatan soul reading.

Waktu berselang, Piyik semakin dalam menekuni soul reading. Berbagai tema populer lain seperti penyihir, perang robot, pahlawan super telah dia cicip satu per satu. Di kalangan teman sepermainannya, si Piyik sudah menyandang gelar sebagai Soul Reader atau seseorang yang hobby di bidang soul reading. Dalam grup obrolan teman sepermainan, Piyik menamai usernamenya dengan soulreader_bgt alias soul reader banget. Dan dia cukup bangga akan pencapaiannya menjadi makhluk yang berbeda dibanding teman-teman sepermainannya. Dia dapat panggung, dia dapat sebutan, dan dia cukup mendapat rasa hormat dari teman sebayanya karena di lingkungannya masih sulit untuk mencari orang yang paham dan menyukai kegiatan soul reading.

Piyik tidak serta merta puas dengan pencapaiannya. Tidak tuntas rasanya kalau hanya mendominasi teman-teman sepermainan yang tidak akan paham duniannya saat ini. Dari grup obrolan dia mulai menjelajahi channel obrolan seputar soul reading, hingga tanpa sengaja dia masuk ke salah satu channel.

*soulreader_bgt telah masuk*

mashurambo: iya, emg seru nge-soul reading karyanya omar304.

bamba: kemarin aku nyobain soul reading judul dia yang roleplay menjadi kecebong.

strawberry77: eh lihat itu, siapa yang baru masuk.

bamba: waow.

mashurambo: waduh, ada “soul reader” nih.

soulreader_bgt: halo semua!

mashurambo: iya, halo juga.

strawberry77: situ soulreader banget ya?

soulreader_bgt: hehehe.

Piyik tersenyum memandangi layar grup obrolan channel di depannya, tidak menyadari arah pembicaraan ini.

mashurambo: udah “baca” apa aja emang? Share ke kita dong.

soulreader_bgt: belum banyak bro, terakhir baru coba namatin perang antariksa karya Lukas66.

bamba: waow.

mashurambo: selera yang di luar rata-rata sekali. Pasti kamu juga baca kisah pahlawan super, bajak laut, balapan modern, perang robot, serta penyihir?

strawberry77: hahaha.

soulreader_bgt: iya, aku suka sekali kisah-kisah itu.

mashurambo: bro, selera kamu basic sekali. Kalau kamu menamai dirimu soul reader banget apa udah pernah coba baca karya ZAPOTEK, reins, paror, atau nagisa123?

soulreader_bgt: belum tuh bro, kayaknya bagus ya?

mashurambo: hadeeeh, gimana sih katanya kamu “soul reader banget”.

strawberry77: dasar basic, udah ngerasa sok keren ya baca buku-buku soul reader yang populer?

soulreader_bgt: enggak merasa sok keren kok.

mashurambo: pasti teman-teman dia pada gak ada yang suka soul reading dan dia doang yang suak, bener sih kalau dia soul reader banget… di daerahnya sendiri tapi HAHAHA.

strawberry77: lol

bamba: izin ikut ketawa.

*soulreader_bgt telah keluar*

bamba: waow.

mashurambo: yah, ngacir dia.

Jemari Piyik membeku di atas keyboard, tatapan matanya kosong memandangi layar channel obrolan grup. Marah, geram, dan malu menyelimuti pikirannya.

Agak lama kemudian Piyik memutuskan menuju kolom profil dan mengganti username grup obrolan miliknya. Tidak hanya itu, dia juga menghapus program soul reading yang dia miliki.

Para Lelaki Pemalu Yang Menyeramkan

Sebuah sajak, anggap saja begitu…

*****

Zaman sosial media memang sangat berbeda.

Bila dahulu kami, para lelaki pemalu harus berbisik-bisik dan bertukar informasi untuk mengetahui sebuah nama.

Harus mematahkan tulang belakang untuk sekadar mencari kesempatan buat bertegur sapa.

Ah, lupakan, kalian tidak akan menyapa kami kembali meskipun tulang belakang kami patah.

Kami yang selalu mengamati kalian dari jauh, namun tak sedetikpun berani saling bertatap mata.

Tidak lagi.

Kami tidak perlu lagi berbisik, atau mengulik, karena semua sudah dengan bodohnya kalian pamerkan.

Nama kalian, kapan hari ulang tahun kalian, makanan kesukaan, warna favorit.

Bahkan mungkin kami akan bisa mengetahui hal-hal yang lebih pribadi seperti di mana kalian tinggal, kontak pribadi kalian. Hehehe, sungguh fasilitas yang mewah sekali bisa mengetahui semua hal pribadi tersebut.

Kalian dengan sendirinya kini memberikan seluruh parasnya untuk bisa kami nikmati.

Kami bisa menatap mata kalian selama yang kami mau, karena mata dan wajah kalian mudah sekali ditemukan di manapun.

Yang lebih menyenangkan lagi, kami bisa langsung menegur sapa lewat kolom komentar tanpa harus kalian mengenal kami.

Kalian membalas tegur sapa tersebut dan menyebut nama kami, dan kami sangatlah senang. Tentunya tanpa ada tulang belakang yang patah.

Padahal iya, kami hanyalah lelaki pemalu.

Tapi dengan segala fasilitas yang kalian berikan, Kami bisa merasa menjadi orang yang dekat dengan kalian, tau apa yang kalian lakukan beserta kebiasaan kalian sehari-hari, kami bisa berucap atau memberi apapun yang kami mau ke kalian.

Kami tidak harus mengenal dan memiliki kalian, tapi kami bisa mengurung kalian di dalam pikiran kami. Menjadikan kalian sebagai fantasi apapun yang kami mau.

Bahkan, sekarang juga kami bisa mengurung foto-foto kalian dan memilikinya untuk disimpan ke data pribadi kami masing-masing.

Kalian yang memberikan semua secara cuma-cuma, kami pikir kalian pasti tidak akan marah jika kami mengambilnya.

Teruslah beri kami sesuatu tentang kalian.

Kami butuh itu.

Dan didasari satu hal bodoh bernama kebebasan.

Kalian tidak akan merasa keberatan.

Bola Karet

Kutatap gadis yang sedang duduk menyelonjorkan kaki sembari minum air mineral kemasan botol di depanku.

“Udahan ya?” kataku.

“Tapi, besok udah tampil nih…” jawabnya sembari menjauhkan bibir botol dari bibirnya sendiri, “…masih sering jatuh.” lanjutnya.

Aku berdiri menghampirinya, “Nggak apa-apa, kamu udah bagus kok.” kataku sembari kupungut bola karet yang tergeletak di lantai.

Kulihat keringat yang membasahi sweater latihan warna abu-abu yang dikenakan gadis ini, serta sorot matanya yang lelah namun menyimpan rasa penasaran untuk menyempurnakan latihannya. Lalu pandanganku beralih ke bola karet berwarna merah yang dipakainya untuk latihan. Beberapa hari yang lalu aku bertanya kenapa dia memilih bola dari instrumen rhythmic gymnastic yang lain seperti tali, pita, hula hoop, atau bahkan tanpa instrumen yang kurasa bakal lebih mudah.

“Lihat video di internet, keren, aku jadi pengen coba, hehehe…” alasan yang benar-benar tidak mendasar, tapi aku percaya saja padanya, dia memang jago menari dan suka tantangan baru. Dan melakukan hal-hal yang tidak mendasar adalah… dia banget.

“Ehmmm,” aku berdehem, dia langsung menoleh ke arahku, “sebenarnya… kamu nggak perlu terlalu niat untuk menang sih, besok…” sialan, tanpa kusadari aku sedang salah ngomong.

Terbukti, dia langsung cemberut memandangku.

“Tapi…” aku berhenti sejenak, secepat kilat aku harus memikirkan kalimat untuk memperbaiki ini.

Dia menunggu sambil  masih cemberut.

Padahal sebenarnya dia kalau cemberut lucu, hehehe. Tapi  jangan buat dia kecewa oleh perkataanmu.

“…yang besok menari pakai bola cuma kamu, itu sebuah nilai plus. Yang sebenarnya pengen kukatakan adalah, bila besok penampilanmu tidak perfect, jangan berkecil hati, pakai bola tuh beneran sulit deh, cuma nonton kamu latihan saja aku jadi bisa merasakan.” lanjutku nyengir.

Yes! perkataanku ini cukup baik.

Dia manggut-manggut dengan ekspresi menyebalkan, seolah berkata “bisa saja ngelesnya”. Kemudian dia menutup botol minumnya, setelah itu dia berdiri.

“Ya sudah, ayo pulang kalau begitu.” katanya, sembari berjalan menuju tasnya yang tergeletak di sudut ruang latihan senam.

Kuncir buntut kudanya malam ini sempurna, aku baru sadar saat kulihat rambutnya dari belakang.

“Hey!” seruku tiba-tiba.

Dia menoleh, kulambungkan bola karet ke udara. Secara refleks dia menangkapnya dengan tangan kiri ketika tangan kanannya masih menggenggam botol minum.

“Tuh, sudah jago.” godaku.

Dia nyengir.

Kuantarkan dia pulang naik motorku, seperti yang kulakukan beberapa hari ini. Ini entah bentuk modus yang ke-puluhan sekian kalau bisa kuhitung, dariku untuk gadis cantik ini. Mungkin dia mulai curiga, mungkin dia  sudah sadar sejak lama, atau mungkin dia sama sekali tidak peduli. Persetan, aku tidak peduli, yang penting malam ini aku memboncengnya, belum bonceng mepet sih, tapi aku bahagia.

**********

Dirinya menghela-hela nafas dengan grogi. Sudah hampir sepuluh kali kata “Jangan grogi, kamu pasti bisa” kukatakan padanya hari ini, dan dia selalu tersenyum mendengarnya, kuharap sedikit groginya bisa reda meskipun itu terdengar konyol. 

Aku berusaha selalu menemaninya sampai dia tampil, dan anehnya dia tidak merasa terganggu selalu berdua denganku belakangan ini. Apakah ini sebuah isyarat lampu hijau ke hatinya? Kepalaku membesar karena ge-er hehehe.

Kami berdua terkejut, namanya tiba-tiba dipanggil oleh panitia via pengeras suara, disertai teriakan riuh penonton yang menantikan penampilan gadis ini. Mendadak aku jadi ikutan cemas, namun aku percaya dia akan membuat juri dan penonton terpana. Aku termasuk manusia terpilih yang menemani dan menyaksikan proses latihannya. Penuh keringat serta kegagalan kecil, kuharap semua usaha berat tersebut akan berbuah hasil.

“Duhhh, namaku dipanggil.” Dia segera mempersiapkan diri berjalan menuju area senam tari, memecah lamunan dan rasa cemasku.

Kupandangi sosok yang perlahan berjalan di depanku. Hari ini dia tampil memakai dress balet lengan panjang warna hitam dengan hiasan bentuk berlian yang kelap-kelip di bagian depan, dengan lipstik merah senada dengan warna bola karet yang akan digunakannya untuk lomba rhythmic gymnastics ini. Apapun penampilannya, tak akan bosan aku memujinya dalam hati kalau dia sangat cantik… sangat cantik.

“Aku berangkat, doain ya.” katanya pamit sembari berjalan perlahan menuju pintu yang mengantarnya ke suara riuh penonton.

“Hey!” aku setengah berteriak memanggilnya, dia tidak berhenti.

“Baru sadar kalau kamu tambah cantik kalau sedang panik.” lanjutku.

Dia menoleh sambil menyengir lebar memperlihatkan giginya yang kecil-kecil dan rapi, lalu dia mengacungkan jempolnya kepadaku. Hatiku sedikit melayang, namun aku berusaha sok cool.

Kesatria Cilik, Episode: Mencari Senjata

“Ndik, mana senjatamu?” Tanya Imam.

“Pedangku patah di pertempuran melawan raja Kepiting, kamu ingat, kan?” Jawabku.

“Ya sudah, kamu tetap di belakangku, sementara aku akan melindungimu dahulu.” Lanjut Imam. Aku mengangguk setuju.

Kami berdua akhirnya tiba di sebuah pohon ceri tua raksasa yang menjorok ke sebuah sungai besar yang berisi banyak kepiting raksasa di dalamnya, kepiting-kepiting raksasa tersebut dengan kompak berhenti berkeliling dasar sungai dan mendongak ke permukaan, melihat kami dengan tatapan mengancam. Aku paling takut dengan yang namanya kepiting, tapi Imam tidak tau. Aku berusaha sok berani.

“Siap?” Tanya Imam.

“Eh… Entahlah, kenapa kita tidak mencari jagung emas di ladang iblis saja hari ini?” Jawabku, tidak yakin.

“Alah, tenang. Aku sudah puluhan tahun mendaki ceri raksasa ini untuk mengambil buahnya yang super manis dan konon katanya bisa memperpanjang umur kita!” Kata Imam meyakinkanku.

“Dan juga, aku sering menjumpai mineral-mineral yang cocok untuk dijadikan pedang sakti. Inilah saat yang tepat untuk menguji mineral tersebut!” Lanjutnya.

“Baiklah kalau begitu, ingat, aku tidak bersenjata. Tolong lindungi diriku!” Akhirnya aku menurut apa kata Imam.

Ah, Imam. Dia jauh lebih muda dariku, namun keberaniannya berlipat-lipat kali lebih besar dariku. Namun aku dengan pikiran yang rasional dan penuh perhitungan sering menyelamatkannya dari keputusan-keputusan bodoh yang justru akan membahayakan nyawanya. Karena itulah kami dilahirkan serasi, sama-sama suka berpetualang dengan kelebihan dan kekurangan kami masing-masing. Aku dan Imam mulai memanjati dahan-dahan tua pohon ceri tersebut. Imam sudah puluhan bahkan ratusan kali memanjat pohon raksasa seperti ini, bahkan pada beberapa petualangan kami, dia sampai berani memanjat melebihi awan yang mana aku hanya bisa melihatnya dari puncak tertinggi pohon raksasa yang bisa aku jangkau. Pohon raksasa ini bukan pohon favorit kami untuk sekedar berlatih ketangkasan ataupun bersantai setelah petualangan yang penat. Namun aku pernah mencoba buah ceri ajaibnya, merah dan manis! Dambaan setiap kesatria di negeri ini karena bisa memulihkan stamina dan konon katanya menambah umur!

“Stop!” Kata Imam mendadak sembari menghalangiku dengan tangannya.

Aku melihat apa yang dimaksud Imam, Seekor ulat raksasa dengan bulu setajam jarum tampak merambat mendekati kami dengan galak. Bila terkena bulu jarum ini, tidak hanya menyakitkan seperti tertusuk, namun juga menimbulkan racun yang membuat kulit kita bengkak dan merah, sangat berbahaya!

Imam segera menghunus pedangnya, dengan gagah berani dia melayangkan beberapa tebasan ke arah makhluk tersebut. Akhirnya ulat berbulu jarum tersebut mati dengan beberapa luka sayatan serta darah berwarna hijau bening membasahi dahan besar tersebut. Andai saja aku punya senjata, pasti aku akan ikut berpesta membantai makhluk yang menghalangi kami tersebut!

Kami berdua melanjutkan perjalanan menaiki pohon raksasa tersebut.

“Bukan makhluk tadi yang sebenarnya aku takutkan,,,” Kata Imam.

Aku mengamati sekitar, daun mulai rimbun dan gelap. Dahan-dahan mulai dihiasi cairan lengket berwarna emas. Aku pun merasakan udara yang kami hirup mulai berubah suasananya.

“Laba-laba sutra emas, dia hidup di sini?” Tanyaku ke Imam.

“Iya benar,” Jawab Imam.

“Sebisa mungkin kita menghindar saja, terlalu berbahaya.” Lanjutnya lagi.

Akupun mengangguk setuju dan kami berjalan lagi.

Diriku bisa paham kenapa Imam begitu takut dengan laba-laba sutra emas ini. Dahulu kami pernah sekali berhadapan dengan makhluk ini saat kami berdua berpetualang di sebuah pohon buah baling-baling besar yang lebarnya dua kali dari pohon ceri raksasa yang sekarang kami panjat. Kami berdua terlibat pertarungan seru dengan laba-laba sutra emas yang memang biasa hidup dan bersarang di pohon-pohon raksasa. Kami, yang saat itu bermaksud mencuri gulungan sutra emas yang konon bisa menjadi tali yang sangat kuat serta perekat untuk jebakan yan telah kami rencanakan merasakan amukan dari laba-laba emas yang sarangnya kami usik. Imam terkena gigitan mematikan pada punggungnya, dan untung kami berhasil melarikan diri. Gigitan mematikan yang sangat beracun membuat Imam berteriak kesakitan selama berjam-jam sebelum akhirnya mendapat pertolongan dari nenek tua sakti berkacamata yang memiliki toko obat-obatan sihir. Sejak saat itulah akhirnya Imam jadi berhati-hati bila berurusan dengan laba-laba sutra emas.

Sebenarnya ada kesatria temanku bernama Rendra yang pernah mengalahkan laba-laba sutra emas ini, bahkan menyedot habis semua sutra emas dari dalam tubuhnya dalam petualangan kami, namun mungkin ini akan jadi cerita di lain waktu!

Kami telah berada di dahan yang penuh ceri ajaib bergelantungan, kami segera memakan ceri ajaib tersebut dengan suka cita, serta tidak lupa memetik beberapa dan kami masukkan ke tas kantong petualangan kami. Sampai sekarang aku tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya ceri ajaib yang ranum dan berwarna merah tersebut!

Di sebuah dahan yang letaknya cukup tinggi serta dipenuhi sutra emas. Imam menunjuk, “Lihat, itulah mineral yang aku maksud.”

Terlihatlah dahan ajaib yang mengelupas dan di dalamnya terdapat besi hitam yang terlihat sangat kuat.

“Ayo kita ambil!” Seru Imam.

Namun langkah kami terhenti. Tidak jauh dari mineral tersebut telah berdiri laba-laba sutra emas yang sedang membungkus seorang peri yang sudah mati terkena jebakan beserta racunnya dengan sutra emas yang keluar dari ekor laba-laba tersebut.

“Bisa gawat nih!” Bisikku ke Imam.

“Sudah, nekat saja, langsung kabur kalau dapat mineralnya!” Jawab Imam.

Imam menghunus pedangnya dengan bergetar. Diriku merangkak maju dan perlahan mencabuti sela-sela kulit pohon tua yang mengelupas sebelum akhirnya kucabut mineral tersebut dengan mudah. Beberapa pohon raksasa memang ajaib, dahan tertentu mereka bisa mengelupas dan menjadi mineral yang kuat untuk bahan pedang, tombak, maupun senjata lainnya yang lazim digunakan oleh kesatria. Mendadak makhluk itu menggeram dan berhenti membungkus mayat peri. Kamu berdua sudah dag dig dug bersiap untuk mengambil langkah seribu, takut berurusan dengan laba-laba berbahaya ini. Namun setelah beberapa lama laba-laba tersebut kembali asyik membungkus mangsanya sehingga aku bisa menyelesaikan mengambil mineral tersebut dan memasukkannya ke kantong petualangan. Dengan berhati-hati kami meninggalkan tempat terkutuk tersebut lalu secepat kilat menuruni pohon ceri tua raksasa ini dengan perasaan riang gembira.

Sesampainya di tanah kami berdua sangat lega.

“Mau ditempa di mana nih enaknya?” Tanyaku?

“Pusat Kesehatan Goblin?” Usul Imam.

Ini adalah tempat di mana goblin biasa berkumpul untuk berobat, namun saat matahari tepat berada di atas kepala tempat ini selalu kosong. Biasa digunakan oleh kesatria untuk mencari bahan-bahan petualangan atau sekedar tempat sunyi untuk beristirahat.

“Baiklah, sambil memakan ceri hasil petikan kita. Sepertinya punyamu lebih merah, boleh aku minta beberapa he hehe?” Jawabku.

“Ah kamu ini, selalu. Ya sudah ayo, sebelum matahari terbenam.” Jawab Imam.

Kami masih harus melewati jalan berbatu terjal sebelum sampai di Pusat Kesehatan Goblin. Petualangan hari ini cukup mengasyikkan.

 

Sopir Bus Berkacamata

Sebagai perantau level cupu, alias merantaunya cuma beberapa jam perjalanan dari kota asal. Saya sangat sering menggunakan moda transportasi berupa bus AKDP (antar kota dalam provinsi). Tempat ideal duduk untuk manusia berkaki panjang seperti saya adalah belakang bangku sopir, karena ruang buat kaki pastinya lebih luas dibanding kalau duduk di deretan tengah bus hehehe.Namun posisi ini sudah jarang saya tempati ketika naik bus, dikarenakan kuota penumpang dari terminal Bungurasih – Surabaya menuju Bojonegoro tidak imbang dengan armada bis yang nge-tem maka penumpang bus selalu overload di jam-jam produktif untuk pulang, contohnya saat sore menuju malam.

Suatu waktu yang cukup larut untuk pulang. Bus cukup sepi sehingga saya mendapat kesempatan untuk duduk di spot idaman, yaitu bangku penumpang depan sendiri tepat di belakang bangku sopir. Bus kali ini agak berbeda, karena baik sopir dan kenek bus masih usia muda secara penampilan fisik. Pak sopir nampak seperti bapak-bapak muda usia 26 tahun berkacamata, cukup nyentrik karena saya sangat jarang bertemu sopir bus AKDP yang memakai kacamata lensa minus (banyaknya adalah sopir-sopir paruh baya yang memakai kacamata plus).

Yang lebih menarik lagi, sopir ini punya kebiasaan untuk menaikkan kacamatanya setiap beberapa saat, walaupun kacamata di wajahnya tidak melorot. Saya sempat sedikit panik ketika di saat yang tidak tepat seperti sedang menyalip kendaraan dan butuh tangan dua pada kemudi bus, dia masih sempat-sempatnya menaikkan kacamata di wajahnya dengan satu jari. Namun sepertinya dia bisa mengatasi semua dengan lancar. Perjalanan terasa smooth dan saya sampai tertidur pulas di bawah kendali bus pak sopir berkacamata.

Saat bus hampir sampai ke tempat tujuanpun pak sopir tetap melakukan habit-nya, menaikkan kacamata di wajah tiap beberapa waktu yang sebetulnya kacamatanya tidak sedang melorot. Yang pak sopir tersebut tidak tau, ada seorang cowok yang juga memakai kacamata duduk di belakangnya, mengawasi kebiasaan kecil si bapak sopir sambil tersenyum setiap kali memergoki sang sopir menaikkan kacamata.

Pasti merepotkan sekali kalau setiap waktu menaikkan kacamata seperti itu.

Warung Dan Rasa Empati

Akhir pekan itu saya sedang pulang ke rumah, saat itu hari sudah menjelang petang dan anggota keluarga kecil saya sedang berleha-leha menikmati waktu yang santai. Sampai ketika ibu saya menghampiri saya yang sedang asyik baca buku sambil tidur-tiduran di sofa ruang keluarga.

“Mama mau ke warung sebelah nih, kamu enggak titip apa-apa?” tanya ibu saya.

“Wah, emang mau beli apa mak?” sahutku.

“Mau membeli beberapa kebutuhan rumah, sekaligus mau beli pulsa.” jawab si emak.

“Waduh, enakan beli pulsa lewat ATM atau net-banking mak, nggak dipotong biaya-biaya lain…” komentarku sembari sedikit berpikir kalau ibu saya masih belum tau cara praktis untuk beli pulsa.

“Ditambah lagi pulsanya cepet masuk, kalau beli di warung atau konter pulsa gitu kan sering pending atau dimahalin beberapa ribu rupiah.” tambahku lagi.

Dengan santai ibu saya hanya merespon, “Ya, tapi kan kalau bukan kita-kita yang beli dan ngebantu usaha tetangga kita yang udah berusaha cari uang secara halal, terus siapa lagi, ndul?*”

Saya hanya termenung tidak menjawab pertanyaan ibu saya barusan, sampai akhirnya hanya terdengar suara ibu menutup pintu depan rumah dan berjalan ke warung.

Saat saya mengira empati sudah hilang dari penduduk-penduduk negara ini, saya sendiri malam ini malah menunjukan sikap kurang berempati pada circle terdekat sekitar kita, yaitu tetangga rumah.

Ibuku, terima kasih untuk selalu mengingatkan bagaimana agar tidak lupa menjadi manusia.

*ndul adalah panggilan sayang ibu ke saya

 

Sang Kesatria

Seketika orang-orang keluar dari persembunyian mereka walau dengan sedikit rasa takut akibat serangan mendadak barusan. Sebuah jasad raksasa kini tergeletak di tengah jalan raya, di atasnya seorang kesatria dengan senapan di tangan kiri serta sebuah pedang bersinar di tangan kanan tengah berdiri dengan gagah setelah membunuh makhuk tersebut hanya dengan beberapa serangan. Jubahnya berkibar, zirah yang melapisi tubuhnya tampak mengkilap terkena sinar matahari. Merasa situasi sudah aman orang-orang sekitar mulai mengerumuni jasad tersebut. Mengetahui situasi sudah tidak kondusif, sang kesatria mengeluarkan sebuah simbol lingkaran dari baju zirahnya dan mengacungkannya ke langit. Seketika itu juga sang kesatria beserta jasad raksasa hilang dibarengi dengan partikel-partikel kecil berwarna keemasan. Dari pekik dan keriuhan orang-orang, ada sekelompok orang yang hanya melongo dari tadi memandangi kejadian tersebut.

*****

Hari itu hari selasa, cuaca cukup panas siang itu. Seorang pemuda tampak menenteng tas plastik sembari berjalan menuju sebuah kantor. Sesampainya di kantor dia segera menyerahkan tas plastik tersebut ke senior kantornya.

“Ini bu sudah saya belikan titipannya.” kata pemuda tersebut.

“Ok, terima kasih ya Rudi.” balas sang senior.

Tak lama kemudian manager kantor keluar dari ruangannya dan menghampiri mereka berdua, “Rudi, kamu istirahat makan siang kok enggak bilang saya? Saya sebenarnya juga mau nitip belikan sesuatu.”

“Oh, maaf pak, ya tidak apa-apa pak saya keluar lagi dan belikan.” jawab rudi disertai senyuman yang ramah.

“Beneran tidak apa-apa rud?” tanya sang manager memastikan.

“Iya pak, tidak apa-apa, mumpung kerjaan saya juga kebetulan sudah hampir selesai.” jawab Rudi.

Begitulah, saat muncul rasa malas yang tidak beralasan. Saat sebenarnya kalian termasuk anda bisa mengerjakan kewajiban anda namun anda merasa terlalu penting dalam sebuah posisi organisasi dan ada para kacung-kacung yang bisa anda korbankan. Selalu ada orang seperti Rudi, yang bersedia membantu tanpa mengeluh.

Banyak orang yang menganggap Rudi sebagai orang bodoh yang cuma dimanfaatkan oleh orang-orang malas. Namun pada akhirnya orang seperti Rudi memang tidak bisa menolak saat dimintai tolong, setidaknya selama dia masih bisa menolong. Dan Rudi tau, disamping dia cuma sebagai anak baru meskipun list pekerjaan yang harus dia kerjakan sama sekali tidak ada hal-hal seperti membantu seniornya untuk ini-itu. Tapi, asal berbuat baik, pasti balasan untuk kita juga baik.

Seperti siang ini…

Tepat saat Rudi akan keluar lagi untuk membeli titipan managernya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh disusul dengan teriakan histeris orang-orang. Kantor Rudi yang berada tepat di pinggir jalan protokol kota seketika ikut panik melihat orang-orang tiba-tiba berlarian.

Terdengar teriakan yang sangat kencang disusul mobil yang terlempar di udara. Pemandangan mengerikan pun terjadi, sebuah makhluk raksasa tampak mengamuk di jalan protokol tersebut dan memporak-porandakan lingkungan sekitar seperti mobil, bangunan, papan jalan, fasilitas umum. Orang-orang kebingungan dan saling berhamburan, mereka selalu mengira ini adalah hari biasa dan kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan mereka.

Begitu pula dengan Rudi, ibu senior, manager kantor, serta seluruh staff kantor tempat Rudi bekerja. Mereka berhamburan keluar kantor untuk melihat apa yang terjadi, dan seketika mereka panik tidak karuan akan  kejadian tidak masuk akal yang mampu membahayakan nyawa mereka.

“Lari!” seru manager memerintahkan pegawai-pegawainya untuk menyelamatkan diri.

Beberapa pegawai segera berlari menyelamatkan diri, beberapa yang bodoh malah mengeluarkan device mereka untuk mengabadikan moment ini, dan diluar dugaan, Rudi malah menghapiri raksasa tersebut (yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari depan kantor Rudi) sembari mengeluarkan simbol lingkaran dari sakunya. Seketika cahaya keemasan menyinari tubuh Rudi, cahaya aneh yang turut serta mematikan alat-alat elektronik seperti mesin mobil, lampu sekitarnya. Lebih seperti semua energi saat itu terserap dan berbentuk menjadi… sebuah baju zirah yang berkilauan lengkap dengan jubah warna merah.

Sang monster raksasa menghentikan kemarahannya dan melihat ke kesatria berzirah. Tanpa banyak omong sang kesatria mengeluarkan sebuah senapan dari tangan kirinya dan menembak sang monster dengan tembakan berupa cahaya. Sang monster raksasa menjerit kesakitan saat tembakan tersebut menembus tubuhnya, saat beberapa detik kemudian sang kesatria sudah menghunus sebuah pedang yang bersinar terang dan secepat kilat menancapkannya ke jantung monster tersebut. Gerakan yang sangat cepat hingga terlihat seperti kilatan cahaya saja. Monster raksasa tersebut sudah ambruk ke tanah.

*****

Beberapa jam setelah kejadian tersebut, orang-orang masih bingung dengan apa yang terjadi. Tidak ada dokumentasi tentang serangan beserta penyelamatan sang kesatria tersebut dikarenakan dua hal: kerusakan kota bisa didokumentasikan tapi entah mengapa saat objek foto mengarah ke monster raksasa, gambar yang didapat hanyalah sebuah bayangan berwarna hitam. Kedua, saat sang kesatria muncul, semua bentuk “energi” di sekitarnya seakan “terserap” alhasil semua alat elektronik, mesin, listrik, bahkan arloji pun mati sesaat. Alhasil hanya orang-orang yang saat itu di sanalah yang menjadi saksi hidup dari penyelamatan singkat sang kesatria, sedangkan bekas kerusakan fisik yang ada dianggap “bencana aneh” serta “orang-orang yang mendadak terlalu berkhayal karena trauma” oleh khalayak yang tidak menyaksikan peristiwa tersebut.

Rudi tidak tampak lagi setelah kejadian tersebut, sang manager memulangkan seluruh pegawainya setelah insiden penyerangan monster raksasa dan tentu saja dia tidak bisa menemukan Rudi di antara pegawai yang saat itu berkumpul sejenak sebelum dipulangkan lebih awal. Sang manager masih tidak percaya pada fakta bahwa pegawai baru yang low-profile dan selalu menurut saat disuruh atau dimintai tolong selama ini adalah penyelamat jiwanya serta puluhan atau bahkan ratusan orang siang ini. Dia tau bahwa tidak akan ada orang yang percaya bahwa pegawai barunya adalah seorang kesatria dengan baju zirah bercahaya. Bahkan dia ragu kalau ada orang yang percaya bahwa siang ini ada raksasa yang mengamuk di jalan protokol depan kantor dan sempat menghancurkan lingkungan sekitar.

Saat si manager hendak membereskan ruangannya, dia tertegun memandangi bungkusan plastik yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dia segera melihat apa isi bungkusan plastik tersebut yang seingatnya tidak ada di atas mejanya sebelum tragedi penyerangan berlangsung, dan ternyata isi bungkusan tersebut adalah…

Minuman ringan dan sekotak merek rokok favorit si manager yang siang tadi dia minta tolong Rudi untuk membelikannya.

Saya hanya ingin mendongeng sekaligus sedikit curcol tentang asam-manis kehidupan kantor, hendikgila.

Do You Love Your Hair?

Saya suka sekali rambut saya.

Rambut saya merupakan bagian yang sangat mempengaruhi look saya di mata orang lain.

Sebentar, mungkin sebelumnya saya tidak terlalu suka rambut saya.

SMA kelas X, saya masih terbawa style rambut saat saya SMP. Potong rambut di pangkas rambut madura, cepak, rapi, super pendek biar nggak cepet potong rambut lagi. Saya masih ingat satu potongan paling fail saat kelas X adalah saat rambut saya jadi macem episode Mr. Bean yang anak potong rambut pakai mangkok padahal niatnya pengen poni keren gitu, namanya juga usaha.

Peralihan dari kelas X ke XI, saya mulai dikenalin musik-musik post-hardcore dan emo sama teman-teman saya. Dari musik, merujuk ke style personil band-band tersebut. Banyak dari mereka yang gondrong berondong dan terlihat keren di mata kita-kita bocah SMA yang masih mencari jati diri. Maka, saat itu teman-teman se-geng pada berlomba-lomba untuk gondrongin rambut dan terlihat Emo, apalagi saat itu banyak dari golongan teman dekat saya yang juga main band se-kaliber gig lokal dan pentas sekolah, pengen keren dong… men!

Problem utamanya, tidak semua model rambut “gondrong sombong berondong” pas untuk semua bentuk fisik teman-teman saya. Ada yang cocok banget dengan model-model gondrong poni lempar Emo, ada yang habis gondrongin rambut malah berujung kayak icon singo edan klub sepak bola Arema.

Buat saya sendiri, karena cukup sakit hati susah menemukan tukang pangkas yang bisa menyanggupi request saya tentang potongan rambut tapi harga jasa pangkasnya santai melambai (tipikal sobat mizkin-tapi-rewel banget ya) akhirnya memutuskan untuk enggak potong rambut sekalian dan membiarkan rambut ini gondrong acak-acakan. Seketika itu pula saya masuk cult siswa gondrong buronan guru BP.

Bayangkan bagaimana serunya, tidak merokok, tidak mengkonsumsi zat berbahaya, hampir tidak pernah bolos (karena ternyata ujung-ujungnya bolos berfaedah tidak cuma alasan malas), hampir tidak pernah ada ribut dengan guru/siswa-siswi lain, nilai rata-rata juga cukup oke, tapi masuk list  most wanted guru BP selama sekolah cuma karena rambut gondrong? Seru kan?

Sekolah saya dulu ada 2 moment yang harus benar-benar diwaspadai oleh kaum-kaum gondrong nanggung. Pertama, patroli harian dari guru-guru yang masuk kategori “benci ketidak rapian.” ini seru karena berasa seperti Assassin Creed saat sehari-hari di sekolah (harus menghindari pandangan guru, serta selalu waspada saat berjalan), lengah sedikit bisa kena tegur, atau lebih parahnya lagi petal* on the spot. Kedua, ada event pengecekan kerapian siswa-siswi yang secara berkala diadakan, lazimnya satu tahun sekali, namun cukup random juga, pernah satu semester sekali diadakan. Yang kedua ini cukup susah dihindari, karena diadakan saat jam pelajaran dan susah cari informasi kapan operasi ini akan diadakan, tidak seperti info internal kapan bakal pulang lebih awal. Saya pun selalu langganan kena operasi kerapian ini, walau pernah sekali atau dua kali lolos. Itupun karena kebetulan lagi tidak masuk ataukah sedang hoki tidak ada kegiatan di kelas (olah raga atau jam pelajaran kesenian).

*Petal adalah bahasa jawa yang lazim digunakan untuk menyebut potongan rambut yang tidak simetris antara permukaan kiri/kanan (yang kanan/kiri lebih pendek dan nggak sama dengan sisi sebaliknya) biasanya untuk efek jera dan harus ke tukang pangkas rambut buat memperbaikinya agar kembali simetris.

Sedikit flashback, tentang bagaimana proses saya mulai menyukai rambut saya. Selesai masa SMA dan masuk masa kuliah, saya menyadari kalau gaya rambut gondrong dan acak-acakan seperti ini memang sangat suit dengan model manusia seperti saya (setidaknya itu yang saya pikirkan sampai saat ini).

Balik lagi ke topik awal, kenapa saya suka rambut saya?

Bagaimana tidak? Rambut saya membuat penampilan saya jadi lebih saya banget. By the way saya orangnya sangat tidak ribet dengan urusan rambut. Saya lebih suka menyisir rambut saya cukup pakai tangan, serta saya sangat tidak memerlukan perawatan/cairan khusus seperti minyak rambut, pomade, vitamin, dan lain-lain. Cukup keramas rutin saja, apalagi kalau sudah terasa lepek atau mulai apek. Minim perawatan, tapi bisa menghasilkan style yang saya suka: Sedikit gondrong dan acak-acakan namun tetap tertata volumenya. Pangkas rambut juga paling cepat 2-3 bulan sekali untuk merapikan rambut yang over. Dengan perawatan yang tidak memakan uang, saya bisa mendapatkan style yang saya suka.

Inti dari postingan ini, meski saya suka terlihat cuek dan acak-acakan masalah rambut. Saya sangat menyukai bagian tubuh ini lebih dari manapun. Semua manusia diberi kelebihan dan kekurangan, tidak ada alasan untuk membenci bagian tubuh tertentu. Dan yang paling penting, selalu ada cerita menarik tentang bgian tubuh kita, terutama rambut. Bagian tubuh yang akan terus menemani kita hingga kita menua dan akhirnya dia berubah menjadi putih dan tidak tumbuh lagi.